tujuh belas agustus lagi..

sangat berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya,, setidaknya tahun 2009 peringatan tujubelasan g seperti ini.,,

teringat saat q masih berstatus sebagai siswa sekolah dasar, bahkan TK sekalipun hingga terakhir menggunakan almamater gadjah mada didepan monas jakarta.

Saat TK

Peringatan tujubelasan waktu ku TK teringat saat itu semua siswa diminta dan dibekali bunga merahputih untuk dikibarkan saat berangkat mengikuti upaca bendera disekitar sekolah, memang g banyak yang ku ingat, tapi setidaknya ku masih ingat betapa tingginya semangat menyambut “hari kemerdekaan” RI, bukan hanya karena banyak perlombaan seperti menggambar, menyanyi dan mewarnai,, tapi juga karena dorongan guru dan suasana yang semarak saat itu.

Saat SD

peringatan tujubelasan saat SD masih semarak, banyak lomba dan kegiatan yang diadakan diknas lingkungan sekolah, pemerintah setempat mulai dari tingkat RT, hingga Daerah I, antusias masih tinggi, terlebih ku ingat saat itu ada kunjungan salah satu menteri era itu, semua siswa diminta membawa bendera merahputih, dan bunga, serta berbaris dijalan raya menyambut kedatangansang “penguasa”, memang saat itu, “wibawa” pemimpin masih sangat tinggi, jangankan presiden lewat, anggota DPRpun disambut mewah dan masyarakat umumnya menuruti apapun yang diinginkan sang “penguasa”. terlebih saat kelas 4 SD sudah berstatus pramuka penggalang, dari sebelumnya pramuka siaga, saat penggalang dan menjadi bagian tim merupakan awal pencarian dan pemahaman makna arti “kemerdekaan” RI, setiap tahunnya selalu disibukkan dengan latihan baris berbaris untuk menjadi salah satu petugas tujubelasan sekolah, daerah, namun saat itu sungguh sebuah penghormatan bagiku dapat dipilih menjadi petugas peringatan ‘kemerdekaan”, hingga akrinya keluar dari SD dan masih memegang teguh makna “kemerdekaan” yang masih abu-abu

Saat SMP

Waktu SMP tidak jauh berbeda dengan SD, masih antusias memperingati “kemerdekaan” RI dengan terlibat dalam OSIS, dan pramuka, setiap menjelang tujubelasan masih selalu mengikuti latihan baris-berbaris laporan-laporan yang kata-katanya selalu diakhiri dengan “laporan selesai” sampai akhir SMPpun ku masih percaya jika negara ini telah merdeka, dan masih mengadopsi kepercayaan bahwa kita terus merdeka

Saat SMK

Dunia SMK tidak jauh berbeda dengan SMP, saat pertama kali menjadi petugas upacara tujubelasan diSMK masih percaya dengan makna Indonesia telah “Merdeka”. sungguh pendidikanku sampai kelas 1 masih mengadopsi pelajaran PPKN yang harus menghafal dan mengulang kata-kata UUD45, butir2 pancasila, dan tuntutan pelajaran sejarah yang mengharuskan kami percaya dengan sepenuh hati jika negara ini telah merdeka. kelas 2 mulai keluar jalur, dengan mengikuti beberapa kegiatan extra sekolah lebih tepatnya antar sekolah, ku mulai mencari dan mulai membuka mata tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya, sungguh saat itu banyak yang menganggapku sebagai orang salah jalur, terlebuh saatku menjadi ketos, banyak teman setingkat, dan kakak2 yang sudah kuliah atau tepatnya berstatus mahasiswa. ku mulai bergaul dan terlena dengan cerita dan fakta2 yang diungkapkan mereka, namun tujuh belasan masih menjadi sebuah rutinitas yang luarbiasa ditempatku, setidaknya dikepengurusan osis saat itu. kelas tiga mulai terbuka dan tertarik dalam advokasi, dan untuk pertama kalinya ku mengikuti kegiatan yang bernama “unjukrasa” bersama para mahasiswa, sebuah kepuasan, sebuah keberanian,, ya kata-kata itu menjadi pemicu adrenalin untuk mengikuti mengikutinya, namun saat tujubelas ku masih mengikuti upacara meskipun hanya sebagai korlap upacara.

Saat menjadi mahasiswa Gadjah Mada

Tujuh belasan saat menjadi mahasiswa UGM menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagiku, untuk pertama kalinya menggunakan almamater memperingati tujubelasan, tapii dengan cara yang berbeda, bukan upaca, bukan baris berbaris, tapi dengan unjukrasa, unjuk rasa yang dulu katanya demi kehidupan Indonesia yang lebih baik, sekali lagi ku terlena dengan rayuannya.. untuk tahun ke-2 menjadi mahasiswa tujubelasan diperingati dengan “lagi” unjukrasa, namun kali ini bukan berjalan dari bunderan menuju nol kilo jogja, tapi dengan berdiri dibunderan deklarasi Merdeka dari korupsi, saat itu ku juga belum tw misi yang terselubung didalamnya, ku hanya tau demi Indonesia yang lebih baik, ku pikir teman2ku juga berpikir yang sama, kita belum tw siapa yang “bermain” dibelakangnya,, yaaa,, ternyata semuanya tidak murini karna demi Indonesia yang lebih baik, namun ada beberapa pihak yang lebih mengutamakan popularitas, terlebih “kedudukan” sehingga kami mulai jenuh dengan “permainan” ini, dan akhirnya memisahkan diri dan terakhir kali tujubelasan dengan almamater didepan monas, itupun bukan karena kami mengikuti keinginan “mereka” tapi seperti tujuan awal kami, demi indonesia yang lebih baik, namun akhirnya mulai terbongkar, jika semuanya hanya “permainan”, dan ku putuskan off dari permainan ini.

Saat Menjadi Mahasiswa ITB

yaa,,, bukan karena g peduli dengan bangsa, bahkan lebih peduli jika mengingat salam ganesha “Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater,, Merdekaa..!!!” tapi ku memutuskan untuk tidak ikutan lagi, mulai merubah diri menjadi mahasiswa biasa, toh bukan hanya dengan cara itu kita dapat membela bangsa, bukan hanya dengan “bermain” itu kita dapat membuat bangsa menjadi lebih baik, tujubelasan tahun ini ku lalui dengan focus kemasalah pribadi, masalah kuliah, sekarang memang untuk pribadi, tapi 2-5 tahun kedepan ku yakin apa yang kulakukan dan kerjakan sekarang akan sangat berguna untuk Bangsa, dengan cara ini ku yakin inilah cara yang lebih nyata, dan ku tw kemana arah dari langkah yang ku ambil, bukan hanya mengikuti, apalagi hanya sekedar menuruti…

Semoga Indonesia segera menemukan arti kemerdekaan yang sebenarnya, bukan hanya retorika terlebih sebuah cerita, minimal merdeka seperti yang diungkapkan Asep Zaenal Ausop yaitu semoga Indonesia dikaruniai kemerdekaan “Kemerdekaan hati ialah senantiasa ikhlas, berbaik sangka, dan bersyukur. Kemerdekaan berpikir yaitu dapat berpikir jernih dan solutif, lepas dari segala macam mitos dan kultus individu. Kemerdekaan politik berarti mandiri mengarahkan negeri. Dan kemerdekaan ekonomi adalah mampu mengembangkan ekonomi Indonesia tanpa terikat bisikan dan tekanan pihak asing”

Merdekaa…