Review

Penjelasan umum tentang Adzan Pitu

Pernahkah anda mendengar istilah “Adzan Pitu”?. Mungkin sebagian besar dari anda akan sangat asing dengan istilah ini, akan tetapi tidak bagi masyarakat Cirebon. Adzan Pitu merupakan sebuah budaya warisan dari Syekh Syarif Hidayatullah atau yang biasa disebut Sunan Gunung Jati, salah satu dari “walisongo” atau penyebar ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Adzan Pitu merupakan sebuah tradisi yang sangat unik karena Adzan Pitu merupakan tradisi Adzan dimana ada tujuh orang mu’adzin yang beradzan secara bersama-sama. Dan Adzan Pitu ini hanya ada di Masjid Sang Cipta Rasa, sebuah masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun keraton Kasepuhan Cirebon.

Nama masjid yang merupakan tempat di mana Adzan Pitu ini dilaksanakan pun tergolong unik. Jika sebagian besar nama-nama masjid menggunakan istilah dari bahasa arab, tatapi lain halnya dengan masjid yang yang satu ini. Tidak ada unsur istilah bahasa arab samasekali dalam penamaan masjid ini.

Masjid Sang Cipta Rasa merupakan masjid yang dibangun pada tahun 1498 oleh walisongo atas prakarsa Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Pembangunan masjid ini dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan dua ratus orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Nama Masjid Sang Cipta Rasa sendiri mempunyai makna filosofi, yaitu “Sang” berarti “Agung”, “Cipta” berarti “Bangunan”, sedangkan “Rasa” berarti “Manfaat”. Dengan nama ini diharapkan Masjid Sang Cipta Rasa akan menjadi sebuah bangunan yang memiliki manfaat yang agung atau besar dalam syiar agama Islam di tanah Jawa, khususnya di Cirebon.1 Dan di Masjid Sang Cipta Rasa inilah tempat dilaksanakannya Adzan Pitu.

Sejarah Adzan Pitu

Literatur mengenai sejarah adzan Pitu memang sulit ditemukan karena kebanyakan buku-buku yang beredar cenderung membahas tentang sejarah Kesultanan Cirebon. Kita hanya akan mendapati cerita yang turun-temurun yang beredar di masyarakat Cirebon.

Menurut penuturan turun-temurun dari kaum masjid, dan penjual buku di depan masjid,  Ada dua versi penuturan soal asal usul tradisi adzan pitu.

Yang pertama, tradisi adzan pitu bermula saat Masjid Sang Cipta Rasa yang masih beratapkan rumbia terbakar hebat. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati yang bernama Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin. “Sejak saat itulah, tradisi adzan pitu dilestarikan hingga saat ini.2

Versi yang kedua menerangkan bahwa adzan pitu merupakan titah dari Sunan Gunung Jati sebagai strategi untuk mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam tinggi bernama Menjangan Wulung. Saat itu, Menjangan Wulung bertengger di kubah masjid dan menyerang setiap orang yang hendak ke masjid baik untuk adzan maupun hendak shalat. Setiap muadzin yang melantunkan adzan selalu meninggal terkena serangan Menjangan Wulung. Selanjutnya, Sunan Gunung Jati meminta tujuh orang melantunkan adzan sekaligus berbarengan. Begitu adzan selesai dikumandangkan, seketika terdengar suara ledakan dari bagian atas bangunan masjid. Dan Menjangan Wulung yang berada di kubah Masjid Sang Cipta Rasa terluka, lalu ia terbang terpental dan darahnya pun jatuh bercucuran.

Bersamaan dengan perginya Menjangan Wulung, konon kubah Masjid Sang Cipta Rasa pun ikut terbawa dan kemudian kubah itu menumpuk di atas kubah Masjid Agung Serang Banten. Konon karena itulah Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak mempunyai kubah, sedangkan Masjid Agung Serang Banten mempunyai dua buah kubah yang bertumpukan.

Dan konon menurut cerita dari para orang tua, darah “Menjangan Wulung” yang berceceran itu tumbuh menjadi tanaman labu hitam atau masyarakat Cirebon biasa menyebutnya “walu ireng”. Dan memakan walu ireng itu merupakan pantangan bagi anak-cucu orang Cirebon.

Pada akhirnya Menjangan Wulung memang musnah karena terpental dari masjid bersamaan dengan meledaknya kubah (memolo) masjid. Namun, sayangnya satu dari tujuh amir masjid tersebut meninggal.

Pelaksanaan Adzan Pitu

Di Masjid Sang Cipta Rasa memiliki kebiasaan setiap salat Jumat yang jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak perempuan yang ikut melaksanakan salat Jumat. Mereka datang bukan hanya dari wilayah Cirebon tetapi sudah melintas batas provinsi bahkan pulau.  Hampir semua memberikan alasan yang sama yakni ingin berharap (ngalap) berkah di masjid yang dibangun wali Allah tahun 1480 M.

Kumandang suara azdan oleh tujuh orang muazin yang dikenal dengan adzan pitu merupakan tradisi turun temurun warisan Sunan Gunung Jati. Tradisi adzan pitu, telah dilakukan secara turun temurun sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, adzan pitu dilantunkan setiap waktu shalat, namun kini hanya dilakukan pada saat salat Jumat saja, pada adzan pertama.

Tujuh orang yang melantunkan azan ini merupakan pengurus masjid yang dipilih penghulu masjid. Meski tak ada persyaratan khusus, namun sebagian besar muadzin merupakan keturunan dari muazin adzan pitu sebelumnya.

Selain azan pitu, tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan di Masjid Sang Cipta Rasa yakni khutbah yang menggunakan bahasa Arab. Meski berbahasa Arab, dan mayoritas jemaah tidak memahami isinya, namun hampir semua jemaah nyaris tidak ada yang ngobrol dan khidmat mendengarkan khotbah.

Menurut Azhari, kepala kaum atau pengurus harian Dewan Kemakmuran Masjid Sang Cipta Rasa, makna penggunaan bahasa Arab sebenarnya adalah agar masyarakat terdorong untuk belajar bahasa Arab. “Seperti tren saat ini, hampir semua orang berlomba-lomba ikut kursus bahasa Inggris agar bisa memahami isinya. Seharusnya terhadap bahasa Arab pun begitu,” harapnya.3

Nilai yang terdapat dalam Adzan Pitu

Di Indonesia, terdapat sejumlah masjid yang memiliki nilai-nilai sejarah dan keindahan arsitekturnya. Masjid-masjid tersebut menjadi saksi perkembangan Islam di Tanah Jawa. Salah satunya adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon, tempat di mana adzan pitu dilaksanakan.

Masyarakat mempunyai cara sendiri untuk mengungkap nilai agama dan sejarah masjid ini. Oleh karena itu, di masyarakat beredar kisah-kisah yang berkisar tentang awal mula pendirian masjid, tokoh-tokoh pendirinya, latar belakang pemberian namanya, dan cerita-cerita lainnya seperti cerita asal mula dilaksanakannya adzan pitu.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, terdapat nilai agama, sejarah, dan budaya di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sangat penting bagi masyarakat Cirebon. Misalnya, Adzan Pitu yang dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus menanamkan kepercayaan akan kekuatan kalimat ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar).4

Adzan Pitu sebagai Daya Tarik Pariwisata di Cirebon

Adanya pelaksanaan Adzan Pitu di Masjid Sang Cipta Rasa cukup menarik minat para wisatawan atau peziarah untuk datang mengunjungi Masjid ini. Oleh karena itu, tak heran jika pada hari jumat ada begitu banyak orang yang datang untuk menunaikan sholat jumat di Masjid ini. Yang datang dan ikut melaksanakan sholat jumatnya pun tak hanya kaum laki-laki, akan tetapi ada juga yang berasal dari kalangan wanita yang ikut melaksanakan sholat jumat di Masjid Sang Cipta Rasa.ini.

Adzan Pitu di Masjid Sang Cipta Rasa hanyalah salah satu wujud dari tradisi yang merupakan bagian dari budaya Cirebon. Selain adanya Masjid Sang Cipta Rasa dengan tradisi adzan pitunya, Cirebon masih memiliki banyak tradisi-tradisi lain yang juga patut dilestarikan seperti tradisi “iring-iringan panjang jimat”.

Dengan terus merawat, mempertahankan dan melestarikan tradisi dan budayanya, suatu daerah akan bisa dijadikan salah satu pilihan tujuan wisata yang akan sangat berguna bagi perkembangan pariwisata daerah tersebut.

Untuk melestarikan tradisi suatu daerah sangat diperlukan kerjasama yang beik antar pemerintah daerah dan juga masyarakat. Pemerintah daerah sudah sepatutnya membantu dalam pelestarian suatu tempat di daerah tersebut yang merupakan bukti-bukti sejarah di masa lampau.

Peran masyarakat pun tak kalah penting, misalnya dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan mau mengenal tradisi-tradisi yang ada di daerahnya, itu setidaknya sudah menunjukkan bahwa sesorang itu mau berusaha dan membantu dalam pelestarian suatu tradisi dan budayanya.

Kesimpulan

Adzan Pitu yang selalu berkumandang di setiap hari Jumat di Masjid Sang Cipta Rasa ini merupakan salah satu tradisi dimana dikumandangkanya adzan secara bersama-sama. Dan tradisi Adzan pitu ini adalah bagian dari budaya masyarakat di wilayah Cirebon. Dan sebagai bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita melestarikan tradisi dan juga kebudayaan yang ada di Indonesia.

Anda pasti pernah mendengar istilah “tak kenal maka tak sayang” bukan? Karena itu belajarlah mengenal tradisi-tradisi yang berupakan bagian dari kebudayaan kita. Agar kita mempunyai rasa cinta dan kebanggan akan budaya kita dan juga mau menjaga dan melestarikan budaya kita itu.

Inilah sekilas penjelasan tentang tradisi adzan pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Salah satu bagian dari kebudayaan yang patut kita lestarikan. Semoga bermanfaat!

Sumber:

1 http://smak1cirebon.com/download/tempat%20wisata%20di%20cirebon.pdf

2 http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/04/06/azan-pitu/

3 http://www.pikiran-rakyat.com/node/96384

4 http://koran.republika.co.id/koran/0/56210/Masjid_Agung_Sang_Cipta_Rasa_Cirebon_Menyimpan_Sejuta_Kisah_dan_Pesona