TRADISI FESTIVAL REOG TAHUNAN YANG DI ADAKAN DI KABUPATEN PONOROGO

KOTA PONOROGO

Ø  BERDASARKAN SEJARAH TERJADINYA:

v  Di dalam buku babad ponorogo yang di tulis oleh purwowidjojo diceritakan bahwa asal usul kota  nama ponorogo bermula dari musyawarah dan kesepakatan dari  raden katong kyai mirah dan djoyodipo pada hari jumat saat bulan purnama. Bertempat di tanah lapang dekkat gumuk(wilayah katongan sekarang).Di dalam musyawarah tersebut  disepakati bahwa kota yang akan di dirikan nanti  akan di namakan “pramana raga”  akhirnya lama kelamaan jadi PONOROGO.

v  Dari cerita rakyat yang masih hidup di  kalangan  masyarakat terutama di dalam generasi tua.Ada yang mengatakan bahwa ponorogo  kemungkinan berasal dari kata pono : wasis,pinter, mumpuni,  mengerti benar.Sedangkan raga:  jasmani badan sekujur. Akhrirnya jadi ponorogo.

TINJAUAN ETIMOLOGI NYA :

Mengacu dari sumber-sumber cerita diatas.Jika ditinjau secara etimologi akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut :

1.     Sebutan pramana raga terdiri dari dua kata Pramana:daya kekuatan,rasa hidup,permono,wadi raga,badan,jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, alumawah, shuflah, muthmainah.

2.     Ngepenakne raga menjadi panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri dimana pun dan kapan pun berada.

Akhirnya  apapun tafsirnya tentang ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap  ponorogo sebagai kota REOG yang menjadi kebanggaan masyarakat ponorogo.

Ø  PEMBAGIAN ADMINISTRATIF :

Kabupaten ponorogo adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa timur,Indonesia. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun di utara,Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten trenggalek di timur,Kabupaten Pacitan di barat daya, serta Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di barat. Ponorogo memiliki luaswilayah 1.371,78 km.

Kabupaten Ponorogo
Lambang Kabupaten Ponorogo
Peta lokasi Kabupaten Ponorogo
Koordinat :
Motto REOG (Resik Endah Omber Girang Gemirang)
Semboyan
Slogan pariwisata
Julukan
Demonim
Provinsi Jawa Timur
Ibu kota Ponorogo
Luas 1.311,09 km²
Penduduk
· Jumlah 869.000 (2003)
· Kepadatan 663 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 21
· Desa/kelurahan 305

Ø  OBJEK WISATA

Ponorogo dikenal dengan julukan kota reog, karena daerah ini merupakan tempat lahirnya kesenian reog. Yang kini menjadi icon wisata Jawa Timur.Setiap tanggal 1 Muharram suro, kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo.Dalam even Grebeg Suro ini diadakan kirab Pusaka yang biasa diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo zaman dahulu, saat masih dalam masa kerajaan Wengkar, diarak bersama pawai pelajar dan pejabat pemerintahan di Kabupaten Ponorogo, dari makam Batoro katong (pendiri Ponorogo) di daerah Pasaar Pon sebagai kota lama, ke Pendopo Kabupaten.Pada malam harinya, di aloon-aloon kota. Festival reog internasional memasuki babak final. Esok paginya ada acara Larung do’a di telaga ngebel, dimana nasi tumpeng dan kepala kerbau dilarung bersama do’a di Telaga Ngebel. Even Grebeg Suro ini menjadi salah satu jadwal kalender tahunan wisata Jawa Timur. Satu lagi obyek wisata yang dapat dikembangkan sejajar  dengan obyek wisata didaerah lain yaitu Telaga Ngebel. Panorama yang dapat dilihat di Telaga Ngebel sangat menakjubkan. Danau yang masih alami dan belum banyak terjamah fasilitas umum ini, dikelilingi oleh Gunung Wilis. Merupakan objek wisata potensial, yang mampu mendatangkan  turis Domestik maupun Mancanegara bila dikembangkan sacara matang dan teratur.

Ø  TRANSPORTASI

Ibu Kota Ponorogo terletak 27 Km sebelah selatan Kota Madiun, dan berada di jalur Madiun-Pacitan. Transportasi umum yang sekarang banyak digunakan adalah kendaraan bermotor, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Ada sebagian kecil menggunakan sepeda angin (sepeda onthel). Dahulu ada jalur kereta api Madiun- Ponororgo- Slahung, tetapi sudah tidak brfungsi lagi sejak tahun 1988. Masih ada kereta yang di tarik kuda(dokar) yang digunakan sebagai alat transportasi utama. Dokar ini biasa digunakan di daerah pinggiran, terutama untuk mengangkut pedagang yang hendak ke pasar-pasar tradisional. Selain itu ada juga dokar yang khusus di fungsikan sebagai kereta wisata, yang biasa digunakan untuk mengelilingi kota Ponorogo(dokar wisata). Jika transportasi  antar kota atau Provinsi terdapat bus antar Kota antar Provinsi. Ada juga angkodes sebagai alat transportasi dari desa ke desa.

Ø  Pendidikan

Ponorogo juga terdapat pondok  modern Gontor, yakni salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka di Indonesia. Beberapa alumni Gontor menjadi tokoh nasional, diantaranya Nurcholis Madjid,Hasyim Muzadi dan Hidayat Nurwahid. Dan juga terdapat Pondok Modern lainya yang santrinya berdatangan dari berbagai pelosok Indonesia seperti Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Pondok Pesantren Al-Islam Joresan, Arrisalah dan Al-Mawadah. Selain pondok juga ada Universitas Muhammadiyah, Universitas Merdeka, STAIN, INSURI, ISID (Institut Studi Islam Darussalam), AKPER PEMKAB Ponorogo. Yang merupakan salah satu tempat pendidikan yang bisa di tempuh di Kabupaten Ponorogo.

Ø  Pertanian

Padi, Ubi kayu, Jagung, Kacang kedelai, Kacang tanah dan Tebu. Kabupaten Ponorogo merupakan kota yang letaknya strategis. Kota yang berada di dataran rendah dan sebagian dataran tinggi. Sehingga cocok tanam yang bisa dilakukan seperti diatas.

Itulah sekilas tentang sejarah dan wilayah kabupaten Ponorogo.

SEJARAH REOG PONOROGO :

Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya. Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan dengan gigitannya beban “Dadak Merak” yakni sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter yang beratnya bisa mencapai 50-an kilogram selama masa pertunjukan. Konon kekuatan gaib sering dipakai pembarong untuk menambah kekuatan ekstra ini, salah satunya dengan cara memakai susuk, di leher pembarong. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Tanpa diberkati wahyu, tarian yang ditampilkan seorang pembarong tidak akan tampak luwes dan enak untuk ditonton. Namun demikian persepsi misitis pembarong kini digeser dan lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional. Menurut seorang sesepuh Reog, Mbah Wo Kucing “Reog itu nggak perlu ndadi. Kalau ndadi itu ya namanya bukan reog, itu jathilan. Dalam reog, yang perlu kan keindahannya“.

§  Legenda Cerita Reog

Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

§  Warok

Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.Nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati,jalan kemanusiaan yang sejati.

§  Syarat menjadi Warok

Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

§  Gemblakan

Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian. Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.

Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan SoloSeni Reog Jaranan mungkin bukan hal baru bagi masyarakat Solo, masyarakat Solo lebih akrab menamainya dengan Jaran Dor. Kesenian ini dulunya sempat terpinggirkan, mengamen dari kampung ke kampung, bahkan tak jarang para seniman ini rela tak mendapat tanggapan sedikitpun.

Kesenian ini sebenarnya merupakan kesenian tradisional kuda lumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musiknya, serta atraksi pemain yang terkadang membuat miris penonton, tak ubahnya seperti debus.

Diawali dengan dua orang penari memakai kuda luping, kemudian muncul pentulan, atau penari dengan memakai topeng berupa rambut gimbal yang pada umumnya digunakan pada saat pertunjukan Reog.  Dahulu kesenian Jaran Dor ini dilakukan dengan ritual-ritual khusus.

Ada seorang pawang yang ikut mendampingi saat penari beraksi hingga selesai pertunjukan. Si pawang tak pernah lepas dengan cambuk, cambuk ini digunakan untuk memasukkanperewangan atau roh ke dalam diri penari, juga untuk memulihkan kesadaran si penari. Saat penari kemasukan roh atau kesurupan, si penari akan melakukan tarian dan atraksi di bawah kesadarannya, seperti memecahkan batok kelapa dengan kepalanya sendiri, memakan pecahan lampu bolam, memakan silet hingga bermain dengan api.

Sebenarnya tari Jaran Dor lebih mengarah pada kesenangan atau hobi, tidak seperti jaranan lain yang memang sengaja dirancang untuk pementasan dengan kemasan cukup rapi. Sehingga penampilan para penarinyapun  terkesan apa adanya dan gerak para penarinya pun tidak seperti jaranan lain. Tari ini lebih banyak dipengaruhi oleh pencak silat, karena kebanyakan para penari sering melakukan lompatan salto selayaknya pendekar pencak silat.

Kesenian ini sebenarnya mempunyai ciri khas tersendiri baik dengan tarian, atraksi maupun penampilannya. Jika di Banten ada Debus, di Solo Jawa Tengah pun ada Jaran Dor. Bukan tidak mungkin, jika ada upaya pembinaan, Kesenian inipun akan menambah beragamnya seni budaya yang ada di Jawa Timur.

§  Reog di masa sekarang

Seniman Reog Ponorogo lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari reog ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkan estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah reog ponorogo dengan format festival seperti sekarang. Ada alur cerita, urut-urutan siapa yang tampil lebih dulu, yaitu Warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Klana Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir. Saat salah satu unsur tersebut beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog Nasional. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya.

FESTIVAL REOG TAHUNAN YANG DI ADAKAN DI PONOROGO

Agenda pertunjukan rutin Kesenian Reog oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo antara lain Festival Reog Nasional, Festival Reog Mini Nasional dan Pertunjukan pada Bulan Purnama. Agenda pertunjukan itu diselenggarakan di Panggung Utama Aloon – aloon Ponorogo. Pertunjukan yang selalu digelar dengan meriah tersebut dapat terselenggara karena memang Pemerintah Daerah memfasilitasi dan menjadi program bulanan dan tahunan. Festival Reog Nasional selalu dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Muharam (Jawa = Suro). Pertunjukan ini merupakan rentetan acara – acara Grebeg Suro dan Ulang Tahun Kota Ponorogo. Pagelaran kesenian Reog akbar ini bertaraf nasional sehingga pesertanya pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan pernah yang berasal dari luar negeri. Pertujukan ini menjadi salah satu andalan pemerintah daerah Ponorogo dalam meningkatkan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun manca negara.

Demikian pula dengan dengan Festival Reog Mini tingkat nasional. Festival reog mini ini seluruh pesertanya adalah generasi muda atau golongan remaja. Mereka rata – rata masih sekolah di tingkat SD atau SMP, mereka adalag generasi penerus kesenian Reog yang nampaknya semakin berkembang. Pola kegiatannya hampir sama dengan Festival Reog Nasional, hanya saja yang berbeda adalah peserta, selain itu waktu pelaksanaannya adalah bulan Agustus.

Agenda pertunjukan kesenian reog yang lain dan tak kalah ramai dari pengunjung adalah pertunjukan Reog Bulan Purnama. Pentas ini rutin dilaksanakan bertepatan dengan malam bulam purnama. Peserta dari pentas ini adalah grup – grup lokal (dalam kabupaten Ponorogo) yang diwakilkan melalui kecamatan – kecamatan. Biasanya pentas ini disertai dengan beberapa pertunjukan tari garapan dari Sanggar seni di ponorogo atau kesenian lainnya.

Grebeg Suro merupakan event budaya tersebar di kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong Tahun Baru Islam atau Tahun baru Saka yang sering dikenal sebagai tanggal satu Suro. Selain hal di atas Setelah acara yang diadakan ditahun tahun sebelumnya berhasil dan mencapai puncaknya yang digelar pada tanggal 5 hingga 8 Januari 2008 di Alon-Alon Ponorogo, kini acarapun digelar kembali. Ponorogo menggelar acara akbar tahunan berjuluk “Festival Reog Nasional XV” yang bertempat di Alon-Alon Ponorogo. Acara ini kerab dijuluki Grebeg Suro.

, Grebeg Suro merupakan peristiwa ritual budaya yang sekaligus menjadi ajang pesta rakyat Ponorogo. Rangkaian acara Grebeg Suro meliputi Festival Reyog Nasional yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke15.

Festival Reog Ponorogo ke XV yang diselenggarakan telah dibuka resmi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X hari Rabu tanggal 23 Desember 2008. Acara berlangsung sangat meriah. Pembukaan Grebeg Suro tak jauh beda dari yang sebelumnya tentunya penampilan Reog dan Kesenian lainnya dari beberapa daerah. Tak hanya warga Kota Ponorogo saja yang bersedia menyaksikan acara ini, dari beberapa kota diluar Ponorogopun ikut serta meramaikan acara ini. Selama kurang lebih 8 hari acara digelar, tak sepi dari pengunjung yang berdatangan semakin hari semakin ramai. Apalagi jika menjelang malam satu suro, semakin larut malam pengunjung tak henti-hentinya datang. Begitu pula dengan peserta group reog yang ikut serta dalam acara Festival Reog Ponorogo XV, bisa dibilang peserta dari Sabang sampai Merauke yang ikut acara ini.

Yang sudah menjadi langganan setiap di malam satu suro ini, disiang harinya terdapat acara Pawai yang bisa dikata dengan sebutan Kirab. Kirab ini seperti karanaval yang diikuti oleh perangkat kabupaten seperti Bupati dan wakilnya dan anak buah sampai para camat di kabupaten Ponorogo. Serta sekolah SMP, SMA, MTs, MA di Ponorogo ikut serta acara kirab ini. Tak lupa pula dimalam suro selalu bertakjubkan kembang api yang dipertontonkan dan diakhiri dengan acara Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Berikut daftar peserta Grup Reyog di acara Fastival Reog Ponorogo XV

No. Nama Grup Reyog Asal
1. Singo Tirang Kota Semarang, Jawa Tengah
2. Reyog Pulo Gadung Kota Jakarta Timur, DKi Jakarta
3. Sardulo Seto Kota Batu, Jawa Timur
4. Liman Singo Budoyo Kab. Lampung Timur, Lampung
5. Jwalita Praja Kab. Trenggalek, Jawa Timur
6. Singo Duto Bantarangin Kab. Gunung Kidul DIY
7. Singo Joyo Jati Kota Balikpapan, Kaltim
8. Margo Mulyo Kota Tarakan, Kaltim
9. Singo Mulang Joyo Kota Metro, Lampung
10. Dewan Kebudayaan Reyog Prop. Lampung
11. Karya Budaya Kab. Keerum, Papua
12. Suro Menggolo Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
13. Lancang Kuning Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau
14. Pudak Arum PT. Semen Gresik, Jawa Timur
15. Gembong Hadijaya Kab. Nganjuk, Jawa Timur
16. Purbaya Kota Surabaya, Jawa Timur
17. Suryo Budoyo DKI Jakarta
18. Pemkab. Wonogiri Kab. Wonogiri, Jawa Tengah
19. PSRM Sarduloanurogo Universitas Jember, Jawa Timur
20. Seni Reyog Raja Laut Kab. Bengkalis, Riau
21. Margo Rukun Kab. Waropen, Papua
22. Karyo Singo Yudho Kutai Kartangera, Kaltim
23. Kusumo Budoyo Kab. Blitar, Jawa Timur
24. Bantarangin Kota Probolinggo, Jawa Timur
25. Singo Manggolo Kota Balikpapan, Kaltim
Dengan intensitas pertunjukan kesenian reog yang sangat rutin, diselenggarakan dari kota hingga pelosok desa, peran pemerintah untuk memfasilitasi dan terjalinnya hubungan pemerintah daerah dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kesenain Reog, kiranya dapat lebih menggairahkan kehidupan kesenian Reog yang menjadi identitas Ponorogo… (kalau tidak mau dicaplok Malaysia, barangkali??). Dengan anggaran yang tidak terlalu besar, pertunjukan kesenian Reog akan terselenggara sepanjang tahun dan tentunya wisatawan dari dalam maupun luar negeri tidak harus menunggu bulan Muharam, Agustus atau bulan purnama.. bukan???

Ø  GAMBAR – GAMBAR:

.DIKUTIP DARI :