Kebudayaan adalah sebuah kata yang sering terdengar di telinga kita.Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta yaitu Buddhayah, ini bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti ‘budi atau akal’.Sedangkan dalam bahasa latin atau Yunani,kebudayaan berasal dari kata ‘colere’ yang berarti mengolah,mengerjakan terutama mengolah tanah.Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam.Sedangkan pengertian kebudayaan menurut ilmu antropologi,kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan,tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

E.B. Tylor mengatakan,bahwa kebudayaan adalah kompleks yang menyangkut pengetahuan,kepercayaan,kesenian,moral,hukum,adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Selo Soemardi,kebudayaan adalah semua hasil karya,rasa dan cipta masyarakat.

Setelah kita mengetahui apa itu kebudayaan,maka kita bisa melihat begitu banyak kebudayaan yang lahir dan tumbuh kembang di Nusantara ini.Semua ragam kebudayaan mempunyai ciri khas masing-masing.Beda suku,beda pula budayanya.Beda tempat,beda kebudayaan yang ada.Itu semua adalah salah satu kekayaan yang harus kita jaga dan lestarikan.

“Sang Bumi Ruwa Jurai”

Lampung merupakan salah satu provinsi yang plural.Karena letaknya yang tepat di ujung Pulau Sumatra,provinsi Lampung seringkali menjadi jalan lintas pulau.Selain itu,provinsi Lampung pun menjadi salah satu pilihan para transmigran untuk bermukim.Sehingga masyarakat di provinsi Lampung terdiri dari berbagai suku dari seluruh nusantara.Itu terbukti dari jumlah penduduk provinsi Lampung yang terdiri dari 62% suku Jawa,25% suku Lampung itu sendiri dan lainnya berasal dari suku sunda,bali,padang,dan lain-lain.Maka sesuai dengan motto provinsi Lampung,yaitu “Sang Bumi Ruwa Jurai”.Menurut Tn.Rajou Tehang,salah satu pemerhati kebudayaan Lampung. Mengenai kata sai adalah bilangan yang menunjukkan tunggal, tidak dua, dan tidak tiga. Sedangkan kata sang adalah kata sandang berdasarkan bahasa Lampung Bandar Pak Pesisir Skalabrak yang persamaannya dangan masyarakat Pepadun adalah senge, sangu, dan sanga yang dalam bahasa Indonesia berarti se atau menunjukkan isi. Contohnya, sai gelas digunakan jika kita berbicara mengenai gelasnya.Bila demikian,makna secara harfiah berdasarkan bahasa Lampung adalah sebagai berikut: Sai adalah satu; bumi adalah wilayah, tempat menetap; ruwa adalah dua; serta jurai adalah tangkai tempat tumbuhnya buah yang keluar dari tandan (misalnya buah enau, aren, rumbai, dapat juga diartikan keturunan, aliran dan paham, serta budaya).Dari terminologi itu, pengertiannya lebih cenderung bahwa kita mengatakan wilayah Lampung ini terbagi dua. Sedangkan sang, sange, sangu, dan sanga bumi ruwa jurai berarti isinya (penduduk, masyarakatnya) terbagi dua. Atau lebih tepatnya bahwa orang yang berada dalam wilayah Provinsi Lampung terdiri atas dua jurai.Ini dikarenakan suku Lampung asli yang terbagi menjadi dua,pepadun dan saibatin.Tetapi motto ini pun bisa diartikan,bahwa siapapun yang telah menetap di provinsi Lampung,dan dari suku manapun,maka mereka harus bersatu tanpa memandang siapa penduduk asli dan siapa pendatang untuk memajukan provinsi Lampung.Termasuk kesenian dan kebudayaan yang sudah ada.

Seni Penghormatan dengan Tari

Ada berbagai macam cara orang menghormati orang lain,secara individu maupun kelompok.Di provinsi Lampung kebudayaan di ekploitasi secara bermoral.Salah

satunya adalah kebudayaan yang berbentuk seni tari.Terkadang masyarakat kurang bisa mengemas tarian menjadi lebih bermakna.Di Lampung,seni tari di kemas dengan apik serta digunakan secara bermoral.

Seni tari merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Sebagai generasi penerus, kita juga dituntut menjaga kebudayaan seni tari yang ada di Indonesia. Harapannya, agar tidak dibajak atau diakui oleh bangsa lain.

Ada berbagai jenis tarian yang merupakan aset budaya Provinsi Lampung. Salah satu jenis tarian yang terkenal adalah Tari Sembah (saat ini nama Tari Sembah sudah dibakukan menjadi Sigeh Penguten). Ritual tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang pada acara begawi (hajatan adat),seminar,kunjungan tokoh masyarakat,dan lain-lain. Mungkin bolehlah dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan.Tapi saat ini tari sigeh penguten sudah seperti tarian wajib di berbagai acara sebagai tarian ritual penyambutan.Selain sebagai ritual penyambutan, tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakat Lampung.

Tari Sembah atau Tari Sigeh Penguten ini merupakan salah satu  cagar budaya dan ciri khas rakyat lampung.Yang sudah semestinya  harus di tradisikan dan bukan hanya di lestarikan. Ditradisikan berarti di kenalkan dimasyarakat, agar masyarakat  tahu dan mengerti.

Pada muasalnya,Tari Sigeh Penguten merupakan Tari adat budaya lampung yang berasal dari suku pepadun.Biasanya diiringi dengan tabuhan melinting.Di persembahkan  untuk menyambut kedatangan raja-raja.Para penari berpakaian adat gadis lampung lengkap.

Busana ini Busana Kami

Karena ini adalah kebudayaan asli Lampung,maka semua adat istiadat Lampung harus di tonjolkan,termasuk busana yang dikenakan penari ketika menari.Busana yang dikenakan adalah busana asli seperti yang dikenakan pengantin wanita suku Lampung,atau kebanyakan gadis asli suku Lampung.

Di kepala penari bertengger siger, yaitu mahkota berbentuk seperti tanduk dari lempengan kuningan yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di depan dan di belakang (siger tarub), yang setiap lekukannya diberi hiasan bunga cemara dari kuningan (beringin tumbuh). Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu kembang hias berupa mahkota berjumlah satu sampai tiga buah. Mahkota kecil ini mempunyai lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Pada umumnya terbuat dari bahan kuningan yang ditatah.

Badan penari dibungkus dengan sesapur, yaitu baju kurung bewarna putih atau baju yang tidak berangkai pada sisinya dan di tepi bagian bawah berhias uang perak yang digantungkan berangkai (rambai ringgit). Sebagai kainnya dikenakan kain tapis dewo sanow (kain tapis dewasana) dipakai oleh wanita pada waktu upacara besar (begawi) dari bahan katun bersulam emas dengan motif tumpal atau pucuk rebung. Kain ini dibuat beralaskan benang emas, hingga tidak nampak kain dasarnya. Bila kain dasarnya masih nampak disebut jung sarat. Jenis tapis dewasana merupakan hasil tenunan sendiri, yang sekarang sangat jarang dibuat lagi.

Kain Tapis ini sebenarnya adalah pakaian yang sangat khas yang biasa dikenakan wanita suku Lampung.Pakaian ini berbentuk kain sarung, terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; “Cucuk”winking. Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. Tapis Lampung termasuk kerajinan tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Kemudian pada pinggang penari dilingkari bulu serti, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari kain beludru berlapis kain merah. Bagian atas ikat pinggang ini dijaitkan kuningan yang digunting berbentuk bulat dan bertahtakan hiasan berupa bulatan kecil-kecil. Di bawah bulu serti dikenakan pending, yaitu ikat pinggang dari uang ringgitan Belanda dengan gambar ratu Wihelmina di bagian atas.

Pada bagian dada tergantung mulan temanggal, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk seperti tanduk tanpa motif, hanya bertatah dasar. Kemudian dinar, yaitu uang Arab dari emas diberi peniti digantungkan pada sesapur, tepatnya di bagian atas perut. Dikenakan pula buah jukum, yaitu hiasan berbentuk buah-buah kecil di atas kain yang dirangkai menjadi untaian bunga dengan benang dijadikan kalung panjang. Biasanya kalung ini dipakai melingkar mulai dari bahu ke bagian perut sampai ke belakang.

Gelang burung, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk burung bersayap yang diikatkan pada lengan kiri dan kanan, tepatnya di bawah bahu. Di atasnya direkatkan bebe, yaitu sulaman kain halus yang berlubang-lubang. Sementara gelang kana, terbuat dari kuningan berukir dan gelang Arab, yang memiliki bentuk sedikit berbeda, dikenakan bersama-sama di lengan atas dan bawah.

Salah satu yang menjadi ciri paling khas adalah,penari mengenakan tanggai.Tanggai adalah hiasan yang dikenakan di jari penari.Hiasan ini berbentuk kuku berwarna keemasan dari bahan kuningan.

Sekapur Sirih dari Sang Ratu

Biasanya,penari berjumlah lima orang.Dengan formasi menyudut kedepan.Penari paling depan,biasa dipanggil sebagai ratu.Gerakan Tari Sigeh Penguten ini sangat lemah gemulai.Dari gerakannya tersirat kesopanan yang ingin ditunjukkan muli-muli Lampung.Dengan alunan musik yang merupakan gabungan antara kelembutan dan ketegasan.Para penari yang mengikuti alunan musik yang sudah ada,menggerakkan bahasa tubuh mereka,yang memancarkan kelembutan,serta ketegasan.Bermula dari berdiri tegak,dengan mengayunkan jari dan tangan secara perlahan,lalu ditegaskan pada setiap akhir gerakan.Kemudian setengah berdiri dengan ketukan dan gerakan yang sama ketika penari berdiri sempurna.Lalu turun dengan posisi setengah duduk.Pada saat itu,ada tambahan gerakan yaitu melambaikan tangan keatas.Setelah itu duduk sempurna.Setelah duduk sempurna dan melakukan gerakan-gerakan yang tidak jauh berbeda,maka penari meluruskan kaki kanannya.Setelah itu ada gerakan-gerakan yang sangat menunjukkan,bahwa penari sedang memberi penghormatan kepada para tamu yang ada.Para penari menundukkan kepala dengan posisi duduk serta kaki kanan diluruskan.Begitulah seterusnya,penari melakukan gerakan-gerakan yang tidak jauh berbeda hingga penari berdiri,lalu duduk lagi.Pengulangan itu terjadi sampai tiga kali.Yang pada pertengahan Tari Sigeh Penguten ini,penari paling depan yang membawa kotak kecil yang berisi sekapur sirih,mempersembahkan sekapur sirih yang ada di dalam kotak kecil kepada tamu kehormatan sebagai ungkapan rasa hormat,antara tuan rumah dan tamu.

Tari Sigeh Penguten Sebagai Pemersatu

Perbedaan sering kali terjadi,dan itu adalah suatu hal yang wajar.Begitupun di provinsi Lampung yang mempunyai dua suku asli.Sudah pasti dari dua suku akan banyak perbedaan yang terjadi,tetapi bagaimana seharusnya kita menyikapi semua itu secara bijaksana.Maka,di kutip dari sebuah tulisan seorang Budi Hutasuhut yang aktif dalam Dewan Kesenian Lampung.Beliau berpendapat bahwa hal ihwal identitas dalam produk-produk kebudayaan kita, termasuk dalam karya sastra, melahirkan polemik yang tak berkesudahan sejak zaman nenek moyang kita. Kesimpulan dari setiap polemik selalu saja “tak ada yang bisa disimpulkan” karena semua identitas yang bertebaran di lingkungan masyarakat memiliki argumentasi yang cocok dan pas untuk menjadi representasi nasional.

Setiap kelompok mengakui bahwa identitas yang dimilikinya paling representatif, tetapi mereka tidak pernah berjiwa besar untuk mengakui bahwa semua identitas yang ada di negeri ini bisa menjadi representasi nasional. Karena keyakinan itu, setiap kelompok akhirnya hanya memikirkan bagaimana caranya agar identitas yang dimilikinya mendapat pengakuan secara luas sebagai orientasi nasionalisme.

Dengan cara berpikir itu, mereka memosisikan identitas kelompok lain sebagai lain (the other), sesuatu yang tak perlu diperhatikan apalagi dipikirkan. Mereka malah berharap identitas di luar identitasnya harus dipunahkan agar kelompok-kelompok pemilik identitas bersangkutan bisa mengubah orientasinya.

Tetapi, mereka tidak pernah secara bijak untuk menjelaskan kenapa kelompok lain harus menerima identitas mereka tanpa sikap kritis. Karena sebetulnya mereka sendiri kurang paham dengan identitas yang dimiliki, meskipun berusaha mempertahankannya dengan cara yang sering mengorbankan rasa kemanusiaan.

Situasi seperti itulah yang dapat ditangkap dari tulisan Firdaus Augustian, Fachruddin, Muhammad Aqil Irham, dan Udo Z. Karzi yang pernah dimuat  di  koran Lampung Post. Setiap upaya yang dilakukan para penulis untuk membicarakan kembali ihwal falsafat hidup orang Lampung lebih kuat dipengaruhi keinginan agar identitas Lampung menjadi representasi seluruh masyarakat di provinsi ini.

Inilah politik representasi yang sudah tentu akan mengalami benturan keras dengan ragam identitas kebudayaan yang tumbuh di provinsi Lampung. Bukan saja disebabkan kelompok-kelompok yang ada juga memiliki keinginan agar identitas kebudayaannya menjadi representasi nasional, tetapi karena masih belum jelas bagi siapa saja mengenai batas-batas demarkasi identitas Lampung itu sendiri.

Sampai detik ini, di antara pemilik identitas Lampung ada dua identitas yang sangat dominan dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Identitas pertama menyebut diri Pepadun, yang lain menyebut diri Peminggir (Pesisir). Tegasnya batas demarkasi antara keduanya, paling nyata pada wilayah demografi, sistem sosial, sistem budaya, dan pola mata pencaharian para penganutnya. Sebagai contoh, orang Lampung dapat dengan mudah dibedakan dari bentuk atap rumah tradisionalnya, ditambah lagi persoalan dialek bahasanya.

Setiap penganut kedua identitas ini sama-sama berusaha menjadi representasi Lampung, yang justru menyebabkan hal itu sulit terealisasi. Semestinya mereka menyadari pentingnya menjaga harmoni. Tetapi, sekalipun setiap identitas telah memperlihatkan kemampuan luar biasa untuk menjaga harmoni, pada sisi lain kita melihat betapa kedua penganut identitas ini sulit dipersatukan karena batas demarkasi diantara keduanya sangat tegas.

Seseorang dari penganut identitas Peminggir (Pesisir), sulit diterima dalam lingkungan masyarakat penganut identitas Pepadun. Namun, penganut identitas Peminggir (Pesisir) baru bisa diterima lewat sebuah proses adat yang sangat panjang dan melelahkan. Prosesi adat itu bisa diterima sebagai upaya untuk menjaga harmoni, tetapi dampaknya tidak bisa diterima akan melahirkan suatu keadaan ideal.

Ketidakjelasan identitas Lampung menyebabkan penganut ragama identitas budaya yang ada tidak terlalu peduli terhadap masa depan identitas Lampung. Bagaimana mungkin penganut identitas lain akan peduli dengan identitas Lampung, sementara penganut identitas Lampung itu tidak pernah memperlihatkan kesungguh-sungguhan mereka untuk menjaga harmoni dengan menciptakan sebuah situasi yang ideal.

Sebab itu, perlu dirumuskan satu solusi seperti yang telah dilakukan ketika Pemerintah Daerah Provinsi Lampung mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Tari Sembah (Sigeh Pengunten). Tari yang diresmikan sebagai tarian Lampung untuk menyambut para tamu penting di pemerintahan itu, merupakan hasil kreasi para kereografer dengan cara mengambil gerakan-gerakan dari sejumlah tarian yang dimiliki identitas Pepadun maupun Peminggir (Pesisir).

Penerimaan terhadap Tari Sigeh Pengunten kreasi baru ini menunjukkan bahwa setiap penganut identitas Lampung bisa menerima hal baru yang dirumuskan dari produk-produk kebudayaan mereka. Artinya, identitas Lampung yang dualisme menjadi satu dalam tari Sigeh Pengunten.

Hal serupa ini bisa diwujudkan dengan merumuskan identitas Lampung yang tidak dualisme dan bisa diterima seluruh kalangan. Dalam bahasa, misalnya, perlu dirumuskan satu bahasa yang menyimpan di dalam warisan identitas Pepadun maupun Peminggir (Pesisir).Tentu saja semua ini akan terwujud jika mereka yang merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian identitas Lampung tidak cuma memikirkan identitas Pepadun atau Peminggir (Pesisir).

Yang Muda yang Berbakat

Maka Tari Sigeh Penguten kini diterima berbagai kalangan,baik di Lampung atau di luar provinsi Lampung.Penari Tari Sigeh Penguten ini pun bukan hanya gadis-gadis (muli-muli) Lampung,tetapi dari anak kecil mereka sudah bisa menarikan Tari Sigeh Penguten ini.

Seperti disalah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di provinsi Lampung,Tari Sigeh Penguten ini sudah dimasukkan dalam daftar ekskul wajib bagi para siswi.Di berbagai Sekolah Dasar bahkan Taman Kanak-kanak di provinsi Lampung,Tari Sigeh Penguten seolah menjadi wajib.Setidaknya saat pelepasan murid,Tari Sigeh Penguten ini selalu menjadi tampilan wajib.

Begitulah budaya penyambutan tamu dengan Tari Sigeh Penguten di provinsi Lampung.

Diambil dari berbagai sumber,dengan perubahan seperlunya.

Daftar Pustaka:

Ulunlampung.blogspot.com:04oktober2010

Pustakailmiah.unila.ac.id :D wiyana Habsyari :04oktober2010

Pendokumentasiantari-eka.blogspot.com :04oktober2010

Sosbud.kompasiana.com :Meysha Lestari :30oktober2010

Wikipedia.org :30oktober2010

Lampung Post:05desember2006