Gambar 1 : Tari Tortor

1. Tortor Dan Margondang

Oleh : Syahri Ramadhan Siregar

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM

Tor-tor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Walaupun secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara. Tor-tor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan.

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Juga menari dilakukan juga dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).
Acara pesta adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu.
Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut :
“Amang pardoal pargonci…….
1- “Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”
2- “Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.”
3- “Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan Hasuhutan untuk memdapatkan (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan sukacita. Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti : permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain lain.

Gambar 2 :” Ulos ” yang selalu dipakai saat Tortor

Tarian (tor-tor) Batak ada empat gerakan (urdot) yatu :
1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu.
2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap).
3- Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan).
4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher,).
Didalam menari setiap penari harus memakai Ulos.

Didalam menari orang Batak mempergunakan alat musik / Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengkap dan bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah. Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah).
Peralatannya cukup sederhana namun kalau dimainkan oleh yang sudah berpengalaman sangat mampu menghipnotis pendengar.
Menari juga dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga atau orang tua yang meninggal, tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa seni tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat hatinya dalam bentuka tarian, sering tarian ini dilakukan pada saat bulan Purnama.
Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

2. Klasifikasi Margondang

Walaupun Tari Tortor dan Margondang selalu berkaitan dan takkan pernah pisah dalam suatu acara adat . Akan tetapi Margondang sendiri punya pengklasifikasian dari mulai di temukannya Margondang tersebut.
Secara umum dikalangan masyarakat Batak Toba, ensambel gondang hasapi dan gondang sabaguan selalu disertakan dalam setiap upacara, baik upacara adat maupun upacara religi.Upacara yang menyertakan gondang dalam pelaksanaannya di sebut dengan margondang (memainkan gondang ). Sedangkan nama dari upacara dimana gondang tersebut dimainkan di dentik dengan nama margondang tersebut, misalnya margondang adat, margondang saur matua dan sebagainya. Hal tersebut diatas merupakan suatu persepsi yang utuh tentang peranan gondang yang sangat esensial dalam upacara adat maupun religi. Pada dasar kegiatan margondang pada masyarakat batak dapat dikalisifikasikan menurut zamannya , yaitu margondang pada masa purba dan margondang pada masa sekarang.

A.Margondang Pada Masa Purba
Yang dimaksud dengan Masa purba adalah masa dimana sebelum masuknya pengaruh agama Kristen ketanah batak, dimana pada saat itu masih menganut aliran kepercayaan yang bersifat polytheisme.Pada masa purba penggunaan gondang dalam konteks hiburan maupun pertunjukan belum didapati masyarakat .Keseluruhan kegiatan di tujukan untuk upacara adat maupun upacara religi yang bersifat sakral.Oleh karena itu upacara margondang pada masa purba dapat dibagi dalam 2 bagian ,yaitu :
1. Margondang adat, yaitu suatu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari aturan-aturan yang dibiasakan dalam hubungan manusia dan manusia (hubungan horizontal), misalnya : gondang anak tubu (upacara anak yang baru lahir), gondang manape goar (upacara pemberian nama/ gelar boru kepada seseorang), gondang pagolihan anak (mengawinkan anak), gondang mangompoi huta (peresmian perkampungan baru), gondang saur matua (upacara kematian orang yang sudah beranak cucu) dan sebagainya.

Gambar 3 : Gondang Sembilan , alat yang dipakai saat Margondang

2. Margondang religi, yaitu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari suatu kepercayaan tau keyakinan yang dianut dalam hubungan manusia dengan tuhan-nya atau yang disembahnya (hubungan vertikal), misalnya : gondang saem (upacara untuk meminta rejeki), gondang mamele, (upacara pemberian sesajen kepada roh), gordang papurpur sapata (upacara pembersihan tubuh/ buang sial) dan sebagainya.
Walaupun upacara margondang masa purba dibagi ke dalam dua bagian, namun hubungan dengan adat dan religi dalam suatu upacara selalu kelihatan dengan jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari tata cara yang dilakukan pada setiap upacara adat yang selalu menyertakan unsur religi dan juga sebaiknya pada setiap upacara religi yang selalu menyertakan unsur adat. Unsur religi yang terdapat dalam upacara adat dapat dilihat dari beberapa aspek yang mendukung upacara tersebut, misalnya : penyertaan gondang, dimana dalam setiap pelaksanaan gondang selalu diawali dengan membuat tua ni gondang ( memainkan inti dari gondang), yaitu semacam upacara semacam meminta izin kepada mulajadi nabolon dan juga kepada dewa-dewa yang dianggap sebagai pemilik gondang tersebut. Sedangkan unsur adat yang terdapat dalam upacara religi dapat dilihat dari unsur dalihan na tolu yang selalu disertakan dalam pada setiap upacara. Menurut Manik, bahwa pada mulanya agama dan adat etnik Batak Toba mempunyai hubungan yang erat, sehingga tiap upacara adat sedikit banyaknya bersifat keagamaan dan tiap upacara agama sedikit banyaknya diatur oleh adat (1977: 69).
Walaupun hubungan dari kedua adat dan religi selalu kelihatan jelas dalam pelaksanaan suatu upacara, perbedaaan dari kedua upacara tersebut dapat dilihat dari tujuan utama suatu upacara dilaksanakan. Apabila suatu upacara dilaksanakan untuk hubungan manusia yang disembahnya, maka upacara tersebut di klasifikasikan kedalam upacara religi. Apabila suatu upacara dilakukan untuk hubungan manusia dengan manusia , maka upacara tersebut dapat di klasifikasikan ke dalam upacara adat.

B. MARGONDANG PADA ZAMAN SEKARANG

Margondang pada zaman sekarang
Gambar 4 : ” Margondang pada zaman sekarang

Margondang pada masa sekarang merupakan perkembangan dari cara berpikir masyarakat setelah pengaruh gereja sudah sangat kuat pada masyarakat Batak Toba.Dalam ajaran Kristiani, gereja hanya mengakui satu Tuhan yang harus disembah yaitu Tuhan Yesus Kristus, apabila ada anggota gereja masih melakukan penyembahan terhadap roh roh nenek moyang dan kepercayaan mereka yang lama, maka orang tersebut aka dikeluarkan dari anggota gereja tersebut. Oleh karena itu,muncul beberapa masalah yang bersifat problematic tentang penggunaan gondang batak dalam kegiatan adat maupun keagamaan .

Di satu pihak orang Batak ingin mempraktikkan dan menghayati gondang itu menurut visi dan tradisi yang sudah sangat mendarah daging, dilain sisi ada kelompok yang menolak gondang untuk dipergunakan dalam upacara adat maupun keagamaan, karena mereka melihat unsur-unsur animism pada gondang tersebut , ada ketakutan mereka mempelajari sejarah batak dan menghidupi unsur-unsur kebudayaannya. Ketakutan ini timbul karena adanya predikat yang kurang baik sepeti kafir, kolot da tuduhan lain yang diberikan penganut kebudayaan tersebut. (Sangti 1977 : 17) Pada bagian yang lain ada juga kelompok agama tradisional pada masyarakat Batak Toba yang menentang ajaran Kristen.

Kelompok ini masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan tradisional  dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, terdapat banyak variasi-variasi pemikiran tentang hubungan antara kebudayaan tradisional dengan agama Kristen  yang datang dari pihak gereja seperti tertulis oleh Verkuyl (1960: 36 ), antara lain :

1. Sikap antagonis (sikap menetang atau sikap negatif) terhadap kebudayaan yang ada.

2. Sikap akomodatif dan kapitulatif (skap menyesuaikan diri ) terhadap kebudayaan yang ada.

3. Sikap dominasi (sikap menguasai) dari pihak gereja terhadap kebudayaan.

4. Sikap dualistic (sikap serba dua) atau sikap memisahkan iman dengan kebudayaan dan

5. Gagasan tetang pengudusan kebudayaan atau motif pertobatan kebudayaan.

Hingga saat ini keseluruhan sikap diatas masih sering terjadi dalam kegiatan-kegiatan tradisional. Dengan demikian banyak variasi-variasi tersebut adalah berdasarkan konsep pemikiran oleh  yang melakukan kegiatan. Dalam hal ini, konsep margondang pada masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu :

a. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dsb.

b. Margandang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari system kekerabatan dalihan na tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangolin anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang diluar suku Batak Toba, dsb.

Gambar 5 : Tari Tortor dan Margondang saat pesta pernikahan

c. Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah mulajadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang dinaggap sebagai wakil mulajadi na bolon.


3. MUSIK YANG DIPAKAI SAAT MARGONDANG

Pada masyarakat Batak Toba terdapat dua ensambel musik tradisional yang sering dipakai dalam acara Margondang, yaitu : ensambel gondang hasapi dan ensambel gondang sabagunan. Selain itu ada juga instrument musik tradisional yang digunakan secara tunggal.

A.Ensambel Gondang Hasapi

Ensambel gondang hasapi memiliki beberapa instrument yang dapat diklasifikasikan menurut instrumentasinya. Hasapi ende (pluked lute dua senar) adalah instrument pembawa melodi dan merupakan instrument yang dianggap paling utama dalam ensambel gondang hasapi. Klasifikasi instrument ini termasuk ke dalam kelompok chordophone. Tune atau system dari kedua senarnya adalah dengan interval mayor yang dimainkan dengan cara mamiltik (memetik).

1. Hasapi doal (pluked flude dua senar), instrumen ini sama dengan hasapi ende namun dalam permainannya hasapi doal berperan sebagai pembawa ritem konstan. Ukuran instrument hasapi doal lebih besar sedikit dari hasapi ende.

2. Sarune etek (shawn), adalah instrument pembawa melodi yang memiliki reed tunggal (single reed). Klasifikasi ini termasuk dalam kelompok aerophone yang memiliki lima lobang nada (empat dibagian atas, satu di bagian bawah) dimainkan dengan cara mangombus marsiulak hosa10. Garantung, adalah instrument pembawa melodi yang terbuat dari kayu dan memiliki lima bilah nada. Klasifikasi instrument ini termasuk ke dalam kelompok xylophone. Selain berperan sebagai pembawa melodi, juga berperan sebagai pembawa ritem variable pada lagu-lagu tertentu. Dimainkan dengan cara mamalu.

3. Mengmung (bamboo idiochordo) adala instrument pembawa melodi konstan yang memiliki tiga senar. Senarnya terbuat dari kulit bamboo tersebut. Klasifikasi instrument ini bisa dimasukkan kedalam kelompok idiochordophone.

4. Hesek, adalah instrument pembawa tempo (ketukan dasar) yang terbuat dari pecahan logam atau besi dan kadang kala dipukul dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan dengan cara mengadu pecahan logam tersebut sesuai dengan irama dari suatu lagu. Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok idiophone.

  • Bentuk Penyajian Gondang Hasapi

Sampai sejauh ini, mengenai konsep yang berhubungan dengan aturan dan bentuk penyajian gondang hasapi belum dapat dijelaskan secara pasti. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Purba (1991) dalam tulisnnya pad harian Sinar Indonesia Baru  yang mengatakan :

“Bukanlah suatu yang baru jika seseorang melihat variasi bentuk susunan instrument di dalam ensambel gondang hasapi. Adakalanya susunan (komposisi) instrument Gondang Hasapi tergantung pada konteks penggunaan, jumlah musisi serta instrument yang tersedia “(Purba 1991 :VII) dalam harian Sinar Indonesia Baru. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa untuk melihat dan mengetahui secara umum suatu bentuk penyajian dan komposisi insrumen yang dipergunakan pada Gondang Hasapi, dapat ditinjau berdasarkan tiga konteks penyajian, yaitu religi, adat dan hiburan. Dalam konteks religi, menurut Osner Gultom (salah seorang musisi tradisi dari penganut Parmalim), gondang Hasapi yang digunakan pada upacara UGAMO (agama) Pamalim, hal-hal yang berkaitan dengan komposisi instrument, merupaka salah satu yang sangat diperhatikan, baik yang berhubungan dengan penambahan dan pengurangan dari jumlah instrument yang digunakan, serta hal lain yang sangat diperhatikan adalah aspek-aspek-aspek yang berhubungan dengan komposisi lagu (Gondang) yang akan disajikan (dimainkan). Kedua hal tersebut adalah kondisi yang sangat diperhatikan oleh masyarakat ajaran Parmalim.

Gambar 6 : Manortor didepan rumah adat suku batak

Dalam konteks adat, menurut beberapa musisi Batak Toba hal seperti diatas tidak terlalu dipermasahkan, angka nada beberapa hal yangmendapat perhatian seperti hal-hal yang berhubungan dengan konsep Sipitu Gondang, yaitu urutan suatu komposisi musik yang terdiri dari tujuh buah Gondang yang dimainkan secara berturut-turut pada awal upacara. Walaupun ada kalanya didalam pelaksanaan sejanjutnya aturan-aturan mengenai jenis Gondang yg dimainkan tida terlalu ketat, (tergantung dari seseoarang yang meminta Gondang dari Pargonsi) yang disebut “Raja Parmalim”, namun demikian biasanya jenis Gondang yang akan dimainkan pada upacara adat, jeni Gondang yang akan pad upacara adat, jenis dan sifatnya sudah tertentu (lihat Purba 1989:2-5). Sedangkan dalam konteks yang bersifat hiburan, hal-hal yang berhubungan dnegan kompossi instrumentasi dan jenis lagu yang dimainkan, dapat dikataan tidak memiliki atran yang khusus. Juga hal-hal yang berkaitan dengan penambahan jenis instrumenya, menurut informan biasanya tidak tertutup kemungkinan untuk ditambah, prinsipnya asalkan instrument yag ditambah karakter suaranya dapat disesuaikan dengan kondisi instrument yang telah ada. Dari ketiga penyajian bentuk Gondang Hasapi, terdapat suatu hal yang spesifik sifatnya, hal ini akan terlihat pada saat penyajian Gondang Tersebut, dimana Gondang tersebut akan dimainkan secara Heterofonis. Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan tempat pertunjukkan Gondang Hasapi yaitu : dimana unsur-unsur yang bersifat spontanitas dari para pemusik, yaitu pada saat pertunjukkan Gondang, dimana salah satu pemusik (tanpa terkecuali) memberikan suatu teriakan, yag bertujuan agar pemain dan orang-orang yang sedang menortor agar lebig semangat. Sedangkan hal-hal pendekatan yang bersifat instrumentalia (tanpa vokal) Namun gondang hasapi yang disajikan dalam konteks hiburan seperti tradisi opera batak, unsur-unsur vocal sering dipakai, sehingga bisa dikatakan Gondang Hasapi dalam konteks “opera batak” sebagai pengiring vocal ataupun penggiring tarian, seperti Tumba dan tor-tor.

  • Fungsi Instrumen Hasapi di Dalam Gondang Hasapi

Hasapi adalah salah satu instrumen pokok didalam Gondang Hasapi, oleh karena disamping sebagai pembawa melodi, juga nama dri instrument hasapi dapat dipakai untuk mewakili instrument lain yang ada dalam Gondang Hasapi. Disamping itu merupakan hasil pengamatan dilapangan bahwa instrument hasapi adakalanya dipakai untuk memulai dan mengakhiri gondang, hal ini dilakukan oleh pemain hasapi. Melihat eksistensi instrument hasapi, baik fungsi, nama maupun karakter suaranya, juga seni perghargaan dari masyarakta pendukungnya, dapat dikatakan bahwa instrument hasapi merupakan instrument yang memimpin (leader) didalam gondang hasapi.

B. Ensambel Gondang Sabangunan

Ensambel gondang sabagunan mempunyai beberapa istilah yang sering digunakan oleh masyarakat Batak Toba, yakni ogung sabagunan dan gondang bolon. Instrument yag termasukdalam kelompok gonadang sabaguna antara lain :

1. Taganing, yaitu lima buah gendang yang berfungsi sebagai pembawa melodi dan juga sebagai ritem variable dalam beberapa lagu. Klasifikasi instrumen ini termasuk kedalam kelompok membranophone. Dimainkan dengan cara dipukul membrannya dengan menggunakan palu-palu (stik).

2. Gordang (single headed drum), yaitu satu buah gendang yang lebih besar dari taganing yang berperan sebagai pembawa ritem konstan maupun  ritem variable. Instrument ni sering disebut sebagai bass dari ensambel gordang sabagunan.

3. Sarune bolon (shawm), yaitu termasuk pembawa melodi yang memiliki reed ganda (double reed). Dimainkan dengan cara mangombus marsiulakhosa (circular breathing). Klasifikasi instrument ini termasuk kedalam kelompok aerophone.

4. Ogung (gong), yaitu empat buah gong yang diberi naam oloan, ihutan, doal dan panggora. Setiap ogung mempunyai ritem yang sudah konstan. Instrument ini berperan sebagai pembawa ritem konstan atau pembawa irama dalam gondang sabagunan. Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok idiochorphone.

5. Odap (double headed drum), yaitu gendang dua sisi yang berperan sebagai pembawa ritem variable. Instrument ini dimainkan untuk lagu-lagu tertentu dalam gondang sabagunan dan sering digunakan ketika pawai. Klasifikasi instrument ini termasuk kedalam kelompok membranophone.

6. Hesek, adalah instrument pembawa tempo (ketukan dasar) yang terbuat dari pecahan logam atau besi dan kadang kala dipukul dengan botol kosong. Instrumen ini dimainkan dengan cara mengadu pecahan logam tersebut sesuai dengan irama dari suatu lagu. Klasifikasi ini termasuk kedalam kelompok idiophone

Gordang sabagunan pada zaman dahulu digunakan untuk setiap upacara yang berhubungan dengan upacara adat maupun upacara religious. Gondang berperan sebagai media yang meghubungkan manusia dengan penciptanya atau disembahnya dalam hubungan vertikal juga sebagai media yang menghubungkan manusia dengan sesamanya dalam hubungan horizontal. Dalam permainan gondang sabagunan instrumne odap sudah jarang digunakan karena permainan dari odap tersebut digantikan dengan meggunakan taganing yang mempunyai suara yang sama. Tangga nada yang ada dalam instrument pembawa melodi yakni taganing dan sarune bolon mempunyai tangga nada yang pentatonis. Namun dalam hal ini istilah pentatonic yang terdapat dalam gondang sabagunan bukan seperti konsep pentatonic yang ada dalam musik barat melainkan hanya suatu sebutan terhadap tangga nada yang mempunyai lima nada dalam konsep gendang sabagunan. Pada dasarnya permainan instrument taganing atau sarune terjalin dalam hubungan melodi yang heteroponis dimana kedua instrumentersebut menbawakan melodi yang sama dalam beberapa repertoar, namun tangga nada ataupun tonalitasnya berbeda. Oleh karena itu istilah heteroponis untuk sarune heteroponis untuk sarune dan taganing ini terjalin dalam heteroponis polytonal.

  • Instrument tunggal

Instrument tunggal adalah alat musik yang dimainkan secara tunggal yang terlepas dari ensambel gondang hasapi maupun gondang sabagunan. Instrument ini biasanya digunakan untuk mengisi waktu luang, menghibur diri. Instrument ini juga tidak pernah dimainkan dalam upacara yang bersifat ritual. Instrument yang termasuk dalam kelompok instrument tunggal, antara lain :

1. Sulim (transverse flute), yaitu alat musik yang terbuat dari bamboo, memiliki enam lobang nada dan satu lubang tiupan. Dimainkan dengan cara meniup dari samping (slide blow flute) yang dilakukan dengan meletakkan bibir secara horizontal pada pinggir lobang tiup. Instrument ini biasanya memainkan lagu-lagu yang bersifat melaonkolis ataupun lagu-lagu sedih. Klasifikasi instrument ini termasuk dalam kelompok aerophone.

2. Saga-saga (jew’s harp) yang terbuat dari bamboo yang dimainkan dengan cara menggetarkn lidah dari instrument tersebut dan rongga mulut yang berperan sebagai resonator. Klasifikasi instrument ini termasuk dalam kelompok idiophone.

3. Jenggong (jew’s harp), yaitu alat musik yang terbuat dari logam,mempunyai konsep yang sama dengan saga-saga.

4. Talatoit (transverse flute), yaitu alat musik yang terbuat dari bamboo, sering disebut juga dengan salohat atau tulila, dimainkan dengan cara meniup dari samping. Mempunyai lubang penjarian yakni dua disisi kiri dan dua disisi kanan, sedangkan lubang tiup berada ditengah. Instrument ini biasanya memainkan lagu-lagu yang bersifat melodis dan juga bersifat ritmik. Klasifikasi instrument ini termasuk dalam kelompok aerophone.

5. Sordam (long flute), yakni alat musik yang terbuat dari bamboo. Dimainkan dengan cara meniup dari ujungnya (up blown flute) dengan meletakkan bibir pada ujung bamboo secara diagonal. Memiliki enam lubang nada, yakni dibagian atas dan satu dibagian bawah, sedangkan lubang tiupnya merupakan ujung dari bamboo tersebut.

6. Tanggetang, yakni alat musik yang senarnya terbuat dari rotan dan peti kayu sebagai resonator. Permainan instrument ini bersifat ritmik atau mirip dengan gaya permainan gong maupun gaya permainan mengmung. Klasifikasi instrument ini termasuk kedalam kelompok chordophone.

Dari keseluruhan instrument tunggal yang ada pada masyarakat Batak Toba, instrument sulim merupakan instrument yang paling sering digunakan dan dimainkan dalam kehidupan sehari-hari, karena mempunyai frekuensi nada yang lebih kuat dan lebih lembut, mudah dibawa kemana saja serta sangat mendukung dimainkan untuk menggungkapkan emosional seseorang.

4.Kesimpulan

Gambar7 : Tari Tortor pada acara perkumpulan suku batak

Dari pernyataan diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Margondang dan Tari tortor adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan dalam suatu pelaksanaannya  menurut tradisi suku batak. Tari tortor tersebut mengalami suatu revolusi dari zaman munculnya hingga sekarang, sehingga masyarakat suku batak sekarang melakukan tradisi tersebut sesuai dengan ajaran  agama mereka masing masing  dan disesuaikan juga dengan ajaran para leluhur mereka.Walaupun ada beberapa perbedaan agama pada suku Batak tapi itu tidak membuat masyarakat suku batak berbeda dalam hal adat dan tradisinya.Mereka berusaha menyesuaikan tradisi yang dibawa oleh leluhur mereka dengan ajaran ajaran agama yang mereka anut.

5.Daftar Pustaka

Anak boruna, dkk. 1993. Horja Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. Jakarta: Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna

Aminudin. 1991. Pengantar Apresiasi karya Sastra. Malang: Y A3 Malang

Awuy, F. Tommy. 1992. Teater Indonesia Konsep, Sejarah, Poblema. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta

BPS (Badan Pusat Statistik). 2006. Mandailing Natal dalam Angka 2006.

Mandailing Natal: Badan Pusat Statistik Kabupaten Madina

Dananjaja. James. 1994. folklor indonesia. Jakarta: PT. Temprint

Dekdikbud. 1982. Ulos. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan

Koentjaraningrat. 1984. Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Pusat Pengenbangan Bahasa Depdikbud

Leaflet. Mandailing Natal

Moleong, 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya

Padmodarmaya, Pramana. 1990. Pendidikan Seni Teater. Jakrta.: Depdikbud

Saragih, F. Nangkir. 1994. Pendidikan Seni Tari. Jakarta: Erlangga

Sediawati, Edi. 1981. Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Sudarsono. 1977. Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta: Depdikbud