A. pendahuluan
Negara Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di seantero belahan dunia Indonesia adalah Negara terbesar pemeluk agama Islamnya. Sehingga kebutuhan untuk studi ilmu keislaman sangatlah penting dan mutlaq. Salah satu wadah untuk mencari ilmu-ulmu keislaman yang lebih menspesialiskan dirinya sehingga di Indonesia terwujud pada lembaga pendidikan yang disebut Pondok Pesantren.
Telah berabad-abad lamanya, pondok pesantren menjadi pusat studi agama Islam ditanah air dan mengalami berbagai pereodisasi. Maka lahir para Ulama yang intelektual dan militan yang memiliki sifat kearifan, ramah-tamah, jiwa kepemimpinanya dan segala sifat terpuji yang melekat pada diri beliau. Sehinga tidak diragukan lagi para santri yang belajar ilmu pada seorang ulama yang mereka juga tekun belajar unggah-ungguhnya ulama bisa menjadi sseorang yang di sebut ulama. Alumnus pondok pesantren juga di harapkan untuk ikut serta berkontribusi dalam pembangunan Negara Indonesia yang “Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur”.
Namun demikian akhir-akhir ini para pengasuh pondok peasantren kian berkurang tingkat kualitasnya sehingga berimbas pada ilmu ynag di dapatkan para santri untuk lebih mengembangkan ilmunya di khalayk luas. Eksisitensi mereka di masyarakat sudah mulai surut para alumnus pondok pesantren tidak lagi menampakkan identitas mereka. Ciri khas mereka sudah mulai luntur, sehingga dampaknya makin kian mencolok dengan kelangkaan seorang Ulama yang intelek. Selain itu, arus globalisasi sudah masuk ke segala sektor kehidupan bangsa dan membawa corak-corak budaya yang bertentangan dengan agama Islam.
Oleh karena itu, salah satu pondok peasantren yang diharapkan mampu untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada dimasyarakat yaitu pondok pesatren Al-Munawwir krapyak yogyakarta ini mencoba menempatkan dirinya pada globaliitas dan mencari solusi untuk menepis isu-isu di masyarakat mengenai semakin langkahnya Ulama yang memiliki intelektual tinggi sehingga dapat membantu di masyarakat untuk memperkokoh kepribadian yang Islami pada diri masyarakat.

B. Sejarah Singkat P.P. Al-Munawwir dan Perkembangannya.
Pondok pesantren Al-Munawwir krapyak yogyakarta ini didiriakn oleh KH. M, moenauwir pada tanggal 15 november 1919 M. sejak berdirinya dan berkembangnya pondok pesantren ini semula bernama Pondok Pesantren Krapyak, karena memang letak pondok tersebut di Dusun Krapyak. Dan pada tahun 1976-an nama Pondok tersebut ditambai dengan Al-Munawwir sehingga lengkapnya adalah pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Penambahan nama Al-Munawwir ini untuk mengenang nama pendirinya KH. M. Moenauwir. Selain itu Pondok Pesantren ini terkenal dengan pondok pesantren Al-Qur’an hal ini sesuai dengan keahlian KH. M. Moenauwir yang menjadi profil figur sebagai ulama besar yang ahli di bidang Qur’an di Indonesia pada masanya dan Al-Qur’an inilah sebagai ciri khusus Pondok Pesantren AL-Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak ini tidak hanya berkompeten dalam bidang Al-Qur’an saja melainkan merambah keilmu-ilmu lain khususnya pendalaman kitab kuning yang kemudian disusul dengan penerapan Sistem Madrasah (klasik) yang pada kemajuan selanjutnya menjadi lembaga-lembaga.
Pertumbuhan pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak ini bisa di lihat dari periodesasi kepemimpin pondok pesantren yakni :
1) Periode KH. M. Moenauwir, (1910M- 1942M)
2) Periode KH. A Affandi, KH. R. Abdul Qodir, KH. Ali Ma’sum (1942 M-1968M).
3) Periode KH. Ali maksum (1968 M- A1989M).
4) Periode KH. Zainal Abidin Munawwir (1989 M- sekarang).
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang , Pondok Pesantren Al-Munawwir Kapyak Yogyakarta kini mengalami pertumbuhan dan perkembangn ynag sangat pesat. Khususnya pada bidang pendidikan sehingga sampai saat ini telah berdiri lembaga-lembaga pendidikan diantaranya : Madrasah Huffadz, Madrasah Assalafiah I,II, III, IV, Al-Ma’had Al-Aly (Perguruan Tinggi Ilmu Salaf). Majlis Ta’lim dan Majlis Masyayih.
Metode sistem pengajaran dan kurikulum di pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak adalah berciri salafi dengan di bimbing oleh tenaga pengajar oleh para kyai, asatidz dan santri-santri senior.
Santri yang bermukim di Pondok Pesantren Al-Munawwir ini, tidak hanya berasal dari daerah Istimewa Yogyakarta saja, melainkan tidak hanya santri-santri dari pelosok jawa, Sumatra, sulawesi bahkan ada juga yang dari tetangga asing yaitu Malaisya, thailaind, korea dan lain-lain. Kalau sudah di tempatkan pada satu asrama tapi berbeda pada kultur mereka sehingga terciptlah Tradisi atau Budaya yang baru.
Untuk menunjang kegiatan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak ini menyediakan berbagai macam fasilitas seperti : asrama, perpustakaan, gedung belajar, masjid, alat-alat ketrampilan dan lain-lain.
Hingga sekarang alumni (mutakhorij) Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak ini sudah ribuan jumlahnya dan tersebar diberbagai daerah yang memiliki keahlian masing-masing dibidangnya. Dan untuk meningkatkan ukhuwah diantara para alumni, maka terbentuklah sebuah organisasi yang mempunyai nama “IKAPPAM” (Ikatan keluarga Pondok Pesantren Al-Munawwir) yang secara resmi berdiri pada tahun 1992 (diambil dari sejarah perkembangan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakata).
C. Pengertian Santri dan Pondok Pesantren.
Membicakan masalah pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak dapat di pisahkan dari pembicaraan mengenai kebudayaan, karena antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan timbal balik yang sangat erat. Dalam litelatur Antropolagi disebutkan, bahwa kebudayaan adalah hasil pengetahuan manusia yang diperoleh melalui proses belajar. Ini berarti bahwa pendidikan aspek kebudayaan, karena proses belajar pada dasarnya merupakan proses pendidikan. Menurut Tilaar (1993), bahwa proses pendididkan merupakan proses transmisi serta pengembangan nilai-nilai kebudayaan.
Suatu sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian dari konsepsi-konsepsi yang luas dan abstrak, yang hidup dalam alam pikiran dari sebagian besar masyarakat mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup, seperti adat istiadat, norma-norma, aturan-aturan khusus, hukum, aturan sopan santun, dan sebagainya. Oleh karena itu, sistem nilai budaya juga berfungsi sebagai suatu pedoman bagi segala tindakan manusia dalam hidup (koentjaraningrat, 1982 ; 25).
Berdasarkan tulisan diatas, maka yang dimaksud nilai-nilai budaya adalah semua pengetahuan yang diajarkan dipondok pesantren. Pesantren sebagai lembaga pendidikan biasanya di lengkapi dangan tempat tinggal bagi para murid (santri) selama menuntut ilmu dipesantren tersebut. Tempat tinggal para santri disebut pondok. Menurut Dhofier (1982), pondok barangkali berasal dari asrama-asrama para santri, atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu atau barangkali berasal dari kata bahasa Arab “fundug” yang artinya hotel atau asrama. Dengan adanya tempat tinggal atau pengunapan para santri ini, mak kata pesantren sering sekali di rangkaikan dengan kata pondok, sehingga menjadi pondok pesantren.
Sementara itu istilah pesantren berasal dari kata dasar santri yang dibubuhi awalan pe dan akhiran an, sehingga menjadi pesantrian yang berarti tempat tinggal para santri dan kemudian mengalami perubahan kata menjadi pesantren. Mengenai asala usul dan arti kata santri, terdapat perbedaan pendapat diantara para ahli. Ada sementara ahli yang berpendapat diantara beberapa ahli. Ada sementara ahli yang berpendapat, bahwa kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti “guru ngaji” ada pula ynag berpendapat, bahwa santri berasal dari kata “shastri” yang berarti dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu. Kata shastri itu sendiriasal dari kata “shastri” yang artinya buku-buku suci , buku-buku Agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan (182 ; 18 ).
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), kata santri mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama adalah untuk menyebut orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh, orang sholeh. Pengertian ini oleh Clifford Geertz (1981). Digunakan untuk lawan orang yang tidak taat beragama. Yang disebut abangan. Pengertian kedua orang yang mendalami pengajiannya dalam Islam (dengan pergi ke tempat yang jauh, seperti pesantren dan lain-lain). Dalam tulisan ini pengertian santri yaitu menurut KUBI.

D. Pengertian Tradisi dan Budaya dalam pesantern.
Seperti pengertian-pengertian yang telah disebutkan oleh para ahli bahwa budaya adalah sebuah kebiasaan. Tradisi dan budaya biasaanya juga di sebut sebuah kebiasaan yang lahir karena adanya suatu kebutuhan dari dalam masyarakat. Kita lirik dulu tentang pengertian budaya menurut Koentjoroningrat menurut beliau budaya iyalah hasil karya , cipta dan karsa manusia. Hasil karya mungkin menurut pendapat penulis sendiri hasil karya dan cipta iyalah sebuah kebiaasaan ynag berbentuk kongkrit seperti tari, dolanan, alat musik itu merupakan hasil dari sebuah kebiasaan masyarakat dan sebuah kebutuhan.
Sedangkang menurut Kamus Ilmiah Populer iyalah cita-cira kehendak dan niat. Sehingga dapat digaris bawahi bahwa menghafal Al-Qur’an termasuk dalam karsa yaitu cita-cita.
Dilihat dari segi hasil budaya dapat di klasifikasikan menjadi dua. Iyalah abstrak dan kongkrit. Abstrak contohnya iyalah ide sedangkan kongkrit iyalah tari. Lalu apa kaitanya budaya dan tradisi itu sendiri. Tradisi bukan budaya tetapi tradisi bagian dari budaya pengertian ini di dapatkan penulis dari bangku kuliah di mata kuliah dasar-dasar ilmu budaya. Jadi bila dikaitkan dengan pesantren bisa saja di belakang pengertian suatu budaya di tambah dengan pesantren. Setelah di telisik oleh penulis, pengertian budaya atau tradisi dalam pesantren iyalah sebuah kebiasan yang terbentuk dari sekelompok santri dalam pesantren.
Kebiasaan dalam pesantren yang disebut juga tradisi contohnya pesantren iyalah :

• Iuran bersama untuk makan bersama. Biasanaya para santri yang telat kiriman mengandalkan iuran bersama ini cukup dengan kocek seribu sudah makan. Misalkan ada delapan orang yang ikut iuran berarti bisa dikumpulkan delapan ribun rupiah lalu ada salah satu dari mereka yang rela untuk membeli makanan tersebut dengan begitu santri yang membelikan itu bisa ikut makan secara gratis sebagai ganti dari ongkos dia membeli makanan. Setelah makanan itu ada lalu meraka makan dengan satu wadah yang namanya disebut rantam. Meraka para santri makan dengan bersama satu rantam sehingga keakraban dari masing-masing person diri para santri melekat.

• Mengadakan Ro’an (besih-bersih). Dengan semboyan annadho fatu minal iman. Kebiasan ini di lakukan biasanya pada minggu pagi mulai dari kolah/kolam para santri membersiahkanya sampai pada bagian yang terkecil yaitu mencabuti rumput di halaman depan ndalem rumah pak kyai.
• Mengunjungi makam para sesepuh pondok pesantren. Ini biasanya dilakukan pada hari jum’at tapi karena hari jumat banyak santri yang berhalangan kemudian dilakukan pada hari sabtu atau tergantung dari masing-masing santri ada santri yang rajin tiap hari menggunjungi makam.
• Membaca Surah Yasiin. Membaca surah yasiin biasanya di lakukan pada malam jum’at mereka para santri membaca yasiin secara bersamaan. Biasanya sebelum pembacaan dilakukan sebuah perantara do’a untuk para sesepuh dipimpin oleh Ro’is mahhad (ketua komplek).
• BAKSOS (Bakti Sosial). Di pesantren biasanya mengadakan baksos yang berkonsentrasi pada daerah yang sangat kurang sekali dalam pengetahuan mengenai agama Islam dan terletak di daerah yang memang masih di anggap pelosok.
Dan masih banyak lagi macam-macam kegiatan lainya yang sangat berguna bagi santri sendiri dan masyarakat luas.

E. menghafal Al-Quran
Menghafal Al-Qur’an atau di dalam lembaga pondok pesantren Al-Munawwir dinamai Madrasah Huffadz adalah salah satu lembaga yang para santrinya khusu menekuni di bidang Al-Quran , baik bil Ghoib atau bin Nadhor juga Qiro’ah sab’ah. Hingga sekarang Madrasah Huffadz di asuh oleh KH. Ahmad Munawwir dan KH. R.M. Najib Abdul Qohar dengan dibantu oleh KH. Zaini Munawwir, KH. Abdul Haffidz, Nyai Badriyah Munawwir, Nyai hj. Ida Fatimah, Nyai hj. Khusnul Khotimah, Nyai Siti Rahmah, dan para santri senior.
Pengajian Al-Qua’an diselenggarakan setiap hari kecuali hari jum’at (libur). Waktunya setelah subuh dan setelah maghrib. Dalam pengajaranya santri yang ingin ikut Tahfidhul Qur’an (menghafal Al-Qur’an). Disyarakatkan harus mengajukan secara bin Nadzor dengan hasil yang baik.
Secara umum pengajian Al-Qur’an bil Ghoib dan Bin Nadzor menggunakan dua cara:
a. Satu waqo dihafalakn sampai lancar dan betul, tidak berpindah ke waqof selanjutnya sebelum waqof sebelumnya bener-benat lancer baru berpindah ke waqof selanjutnya, satu ayat, satu halaman, satu juz, hingga hafal seluruh Qur’an.
b. Sebelum ayat-ayat, surat-surat dihafalkan dengan baik, ayat-ayat yang mau dihafal untuk besok dibaca terlebih dahul. Sehingga karena sering dibaca ayat-ayat tersebut menjadi hafal.
Dan secara khusus pengajaran Al-Qur’an bil ghoib menggunakan dua cara:
a. Perorangn yaitu kyai menguikuti santri untuk menghafal suatu ayat surat atau juz.
b. Ja’maah madrasah, yang mempunyai dua cara yaitu santri di suruh untuk menghafal suatu ayat, surat, atau juz kemudian diteruskan oleh santri lain di sampingnya hingga khatam 30 juz. Yang kedua ialah santri mnghafal kemudian dituntuk kyai salah satu santri diminta untuk meneruska ayat sampai khattam sesuai dengan kebijakan kyai.
Untuk mentashih (Menyaring) kembali hafalan santri yang sudah khatam 30 juz, mak diharuskan melakukan “ARDHOH” secara musyafahah sebanyak tiga kali khatam, dengan metode:
a. Kyai membaca suatu surah atau ayat kemudian santri di suruh meneruskan.
b. Sssatu ayat di baca, lalu santri ditanya jenis dan letak surah atau ayat, halaman dan kedudukanya
c. Sebagian ayat di baca kemudian di lakukan seperti nomer 1 dan2 di atas.
Selah hafal satu Al-Qur’an (30juz) selama 40 hari dilanjutkan dengan mudarrosah dengan menghafal dan menghatamkan sebanyak 41 kali juga.
Selain kegiatan-kegiatn harian tersebut, diadakan juga kegiatan yang sifatnya mingguan seperti sema’an pada setiap hari jum’at untuk para alumni yang masih berada di Yogyakarta dan bulanan seperti pada malam sabtu wage sema’an Al- Qur’an yang di ikuti oleh seluruh santri Al-Munawwir.
Bagi antri yang sudah menghafalkan Al-Qur’an baik bin Nadzor atau bil Ghoib maka diadakan acara khataman yang diselenggarakan di pondok pesantren Al-Munawwir :
a. Khataman yang di selenggarkan setahun sekali pada waktu peringatan hari wafat (KHOUL) KH.M. Moenauwir baik putra (tempaynya di komplek L) maupun putri (Tempatnya Di Aula PP. Al-Munawwir).
b. Khataman yang diselenggarakan satu tahun sekali pada bulan sya’ban khusus untuk putri (di komplek madrasah huffadz).
c. Khataman yang di selenggarakan di komplek Nurrussalam khusus santri putri.

Mungkin dari uraian di atas bisa difahami bahwa banyak sekali kebiasan-kebisan santri lainya dalam keseharian mereka melakukan berbagai macam kegiatan. Dan di dalam asrama, santri yang tinggal di asrama P.P. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta tidak hanya berasal dari yogyakarta tapi juga bersal dari berbagai macam penjuru dunia yang masing-masing dari mereka membaawa kultur budaya yang berbeda.