TRADISI SANTRI PONPES KRAPYAK YAYASAN ALI MAKSUM

Oleh : Sahid Maulana F

NIM : 10/302219/SA/15545

Tradisi seorang santri, terutama seorang santri dengan basis pondok pesantren itu adalah dengan memakai sarung pada setiap melakukan kegiatan di dalam pesantren itu sendiri. Terutama setiap melakukan ibadah sholat dan mengaji. Tidak hanya sarung, namun setiap santri juga memakai baju taqwa (baju muslim), memakai kopiah (peci). Itu semua telah menjadi tradisi bagi para santri pondok pesantren. Ada juga tradisi jika seorang santri yang tinggal di dalam asrama pesantren itu tidak memiliki / pernah mempunyai penyakit kulit maka di dalam pesantren itu tidak dikatakan seorang santri. Tidak hanya penyakit kulit, di pesantren itu jika tidak pernah mendapat pukul rotan. Itu belum bisa disebut seorang santri sejati (itu kata seorang kakak kelas di dalam asrama). Kebanyak pengalaman seorang santri yang pernah merasakan tinggal di pondok pesantren itu “kebersamaan”. Karena seorang santri yang tinggal di dalam sebuah asrama itu tidak lepas dari santri lainnya. Seperti penduduk yang saling membutuhkan bantuan dari tetanga lain. Itu juga bisa di alami oleh seorang santri.

Berbicara tentang santri. Di sebuah wilayah yang tetrletak di antara perbatasan kota Jogja dan Bantul. Ada sebuah kampung yang dimana kampung itu di beri nama Kampoeng Krapyak. Menurut ceritanya, kata seorang bapak tukang becak yang pernah saya ajak berbincang, dulu kampung krapyak itu adalah sebuah hutan belantara. Yang dulu hutan itu juga adalah tempat seorang pangeran kraton untuk mencari / berburu seekor kijing (kijang). Ditengah-tengah hutan di dirikannya sebuah bangunan yang membentuk menyerupai Ka’bah. Bangunan itu di beri nama Kandang Menjangan, karena bangunan itu dulu adalah tempat penyimpanan buruan pangeran kraton pada zaman itu. Dari atas Kandang Menjangan itu juga kita bisa melihat lurus ke Utara sebuah bangunan  Tugu Jogja dan Gunung Merapi. Di situ juga di dirikan sebuah Pondok Pesantren yang mana Pondok Pesantren itu di namai dengan Pondok Pesantren Krapyak yang berdiri pada tahun 1910 oleh Al-Maghfurullah K.H.M. Moenawwir yang merupakan salah satu Pesantren di Indonesia yang telah di kenal luas oleh berbagai kalangan. Dalam perkembangan selanjutnya, sepeninggal Al – Maghfurullah K.H.M. Moenawwir bahwa kebaradaan Pondok Pesantren Krapyak ini tidak dapat di pisahkan dari Almarhum Al-Maghfurullah K.H. Ali Maksum (1911-1989). Oleh karena itu Yayasan Ali Maksum tidak bisa terlepas dari sejarah berdirinya Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang di dirikan pertama kali oleh Al-Maghfurullah K.H.M. Moenawwir dan Al-Maghfurullah K.H. Ali Maksum sebagai penerus dan pengembangan Pondok Pesantren ini. Di Bawah kepemimpinan Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum, Pondok Pesatren Krapyak Yogyakarta mengalami kemajuan di berbagai bidang, baik bidang sarana prasarana maupun di bidang pendidikan. Kemajuan di bidang pendidikan di antaranya: berdirinya Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Diniyah, Taman Kanak-kanak (TK), Pendidikan Al-Qur’an bil Hifdzi dan bil Ghoib, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), serta kegiatan-kegiatan santri dan kemasyarakatan lainnya. Sedangkan kemajuan di bidang sarana-prasarana meliputi pergedungan dan beberapa tanah. Keberhasilan Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum tidak hanya ke dalam Pesantren saja. Pengabdian dan karya baktinya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara mengukir sejarah nasional yang tak akan terlupakan. Semasa hidupnya Al-Maghfurullah K.H. Ali Maksum pernah menjabat Rais ‘Am Jamiyah Nahdlatul ‘Ulama. Kepemimpinan Al-Maghfurullah tercatat sebagai suatu periode yang menghantarkan Nahdlatul ‘Ulama kembali ke khittah ’26. Secara keseluruhan Yayasan Ali Maksum menempati areal  25.000 m, berlokasi di senbal selatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (2,5 km), terletak di wilayah Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Dalm penyelenggaraannya, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta memiliki maksud dan tujuan:

  1. Mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui  pembinaan dan pengembagan Pondok Pesantren.
  2. Mendidik dan membina masyarakat untuk menjadi manusia yang bertaqwa dan berkepribadian, trampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menunaikan tugas dan kewajibannya dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ‘ala ahlussunah wal jama’ah.

Kembali lagi soal tradisi, di Yayasan Ali Maksum ini mempunyai tradisi tahunan, bulanan, dan mingguan.

TRADISI MINGGUAN

Dan juga tradisi lainnya untuk mingguan (di mulai Kamis malam Jum’at), untuk malam Jum’atnya Yayasan Ali Maksum biasa mengadakan suatu kegiatan pada malam Jum’at Kliwon melakukan Yasinan bersama, kemudian pada malam Jum’at Pon melakukan Muhadhoroh, selanjutnya setiap malam Jum’at Wage melakukan Muqoddamah , ada juga acara Barzanji setiap malam Jum’at Legi, yang lainnya setiap malam jum’at Pahing di adakan kumpul bersama dengan para santriwati untuk berdo’a bersama, dan yang terakhir setiap Jum’at pagi ba’da menunaikan sholat Shubuh biasa diadakan rutin untuk ziarah makam.

Adapun muhadhoroh adalah acara rutin di komplek / asrama Putra yaitu pelatihan  pidato. Di asrama ini di tempati oleh para santri yang masih sekolah mulai dari Tsanawiyah dan Aliyah. Kemudian muqoddamah, ini adalah suatu acara yang di lakukan di komplek masing – masing. Muqoddamah itu acara khataman Qur’an yang di baca bersama – sama, namun cara membacanya satu santri membaca 1 juz dan selanjutnya.

TRADISI BULANAN

Untuk tradisi bulanan meliputi sema’an Al-Qur’an di masjid yang di laksanakan pada malam Sabtu Wage yang di pimpin oleh para sepuh dan para Tahfidzul Qur’an. Acara sema’an Al-Qur’an 30 juz ini biasa di lakukan pada ba’da Isya’ sampai selesai. Kemudian setiap tanggal 17 / 18 di adakan Upacara Bendera yang di lakukan di masing-masing Madrasah, seperti Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu setiap awal bulan di adakan Tahlil / Mujahadah di dalam komplek / asrama masing – masing. Dan untuk akhir bulan di adakan Khitobah / Muhadharoh ini juga di adakan di komplek / asrama masing – masing.

Adapun sema’an Al-Qur’an adalah acara rutin para santri di Yayasan Pondok Pesantren Krapyak untuk menyimak para Tahfidzul Qur’an baik Yayasan Al – Munawwir maupun Yayasan Ali Maksum.

TRADISI TAHUNAN

Dari tradisi tahunan biasanya Yayasan Ali Maksum mengadakan banyak kegiatan salah satunya adalah tradisi HAUL, yaitu suatu tradisi yang memperingati wafatnya seorang tokoh yang memiliki jasa yang tinggi. Seperti HAUL pada setiap memperingati wafatnya Al-Maghfurullah K.H. Ali Maksum. HAUL ini di laksanakan pada tanggal 10 Jumadil Awal. Kegiatan HAUL itu sendiri meliputi berziarah ke makam Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum yang biasanya dilakukan pada sore hari, kemudian pada malam harinya melakukan do’a bersama untuk Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum dan di lanjutkan Shalawatan bersama santriwan dan santriwati dan para astidz dan seluruh keluarga besar Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum. Yayasan Ali Maksum juga mempunyai tradisi setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. pada setiap 12 Rabiul Awal yaitu melakukan pengajian dengan tausiah dari para Kiai dan di lanjutkan Shalawatan atas Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada tanggal 27 Rajab di adakan pengajian Isra’ Mi’raj yang mana biasa di lakukan bersama-sama dengan para santriwan dan santriwati dan para asatidz dan para kiai seluruh keluarga besar Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum. Dan kemudian pada tanggal 1 Muharam rutin di adakan do’a bersama untuk pergantian tahun Hijriah yaitu akhir tahun dan awal tahun yang di lakukan hanya antar komplek / asrama yang di pimpin oleh ketua komplek / ketua asrama. Kemudian setiap malan Nisfu Sa’ban biasa diadakan sholat tasbih bersama secara rutin setiap tahunnya. Dan juga pada tanggal 17 Agustus biasa di adakan lomba antar komplek, kelas, dan juga lomba antar kamar di dalam asrama. Untuk tradisi tahunan ini, seluruh keluarga besar Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum.

Adapun HAUL adalah acara memperingati wafatnya seorang tokoh ternama. Istilah ini biasa di pakai oleh para tokoh pendiri Pondok Pesantren, seperti HAUL Al – Maghfurullah K.H. Ali Maksum yang di adakan pada tanggal 10 Jumadil Awal dan HAUL Al – Manghfurullah K.H.M. Moenawwir yang di adakan pada tanggal 11 Jumadil Akhir.

TRADISI LAINNYA

Tradisi lainnya dari Yayasan Ali Maksum itu biasanya melakukan do’a bersama untuk para santriwan dan santriwati yang sudah kelas 3 baik Tsanawiyah maupun Aliyah. Acara do’a bersama ini biasa di lakukan pada saat beberapa bulan sebelum Ujian Nasional di laksanakan dan do’a besama itu dilakukan setiap malam jum’at di karenakan setiap hari jum’at para santriwan dan santriwati libur. Di adakannya do’a bersama ini di karenakan untuk memohon dan meminta kemudahan dalam Ujian Nasional isi do’a tersebut adalah ber – Mujahadah bersama. Dan ada juga tradisi ketika ada salah satu dari pembimbing santri atau kiai akan melaksanakan Ibadah Haji, tiga hari sebelum keberangkatan mereka untuk menunaikan Ibadah Haji biasa dilakukan Khataman Al-Qur’an, sema’an Qur’an dan do’a bersama untuk calon Haji tersebut selama 3 hari sebelum keberangkatan. Seorang santri umumnya tidak pernah lepas dari tradisi yang di lakukan pada semua kalangan santri, yaitu makan bareng atau yang biasa di bilang joinan. Tidak hanya dalam makan bersama, namun masih ada yang lain seperti ketika akan mandi pasti seorang santri tdak pernah lepas dari kebersamaan walaupun itu mandi di karenakan mengantri mandi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Buku Pedoman Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, 2001.
  2. Buku Profil Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, 2001