March 22nd, 2010
Sejarah Singkat Satuan Resimen Mahasiswa Universitas
Gadjah Mada
Resimen Mahasiswa merupakan organisasi yang terbentuk dari embrio TRIP, Tentara Pelajar, dan corps mahasiswa pada masa perang kemerdekaan. Dari dasar itulah Menwa Indonesia dipersiapkan dan dibentuk sebagai pasukan untuk bertempur melawan musuh dan langsung terjun ke lapangan untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Ketika masa Tritura Menwa Indonesia ikut serta dalam mobilisasi ke daerah perbatasan setelah perang kemerdekaan tahun 1960-an, Menwa Indonesia merubah visi dan misinya sebagai suatu pasukan cadangan Nasional di bawah Komando TNI. Kemudian Menwa hadir di kalangan civitas akademika sebagai wujud bela Negara. Ketika wajib latih mahasiswa dan pembentukan Resimen Mahasiswa dari tahun 1959 s/d 1965 lahirlah peraturan yang mewajibkan pembentukan Menwa di setiap Kodam di Indonesia. Pembentukan Resimen Mahasiwa Mahakarta dimulai sejak tahun 1962 dengan diadakannya pertemuan antara Dewan atau Senat Akademik beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta yang meghasilkan pembentukan Resimen Pembangunan pada tanggal 15 Januari 1962 secara de-facto dan de-jure berdirilah Resimen Pembangunan Mahakarta. Ketika itu Prof. Herman Yohannes yag menjabat sebagai Rektor UGM dilantik sebagai Komandan Resimen Pembangunan Mahakarta oleh Letjen TNI Ahmad Yani pada tanggal 10 Januari 1963. Setahun kemudian Resimen Pembangunan diikutsertakan dalam mobilisasi umum di daerah Irian Barat dan perbatasan Kalimatan. Pada tahun 1977 keluarlah Surat Ketetapan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri P dan K, Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri mengenai pembentukan Resimen Mahasiswa di setiap Perguruan Tinggi di Indonesia yang berkonsep pada Bela Negara, sedangkan Resimen Mahasiswa Mahakarta Yogyakarta resmi terbentuk tanggal 19 April 1977 meskipun Menwa di DIY telah ada sejak 10 Januari 1963. Komando Resimen Mahasiswa Mahakarta Batalyon 1 Universitas Gadjah Mada terbentuk secara resmi pada tanggal 8 September 1977 yang dikomandani oleh Budi Setiono sebagai yudha perintis. Perjalanan Menwa UGM dalam mendidik dan melatih anggotanya telah membuahkan hasil dengan mengikutsertakan anggota-anggotanya dalam misi kemanusiaan seperti pengiriman pasukan ke Timur Tengah pada tahun 1978 dan 1979 yang tergabung dalam pasukan Garuda dengan konsep bela Negara. Menwa UGM melakukan berbagi kegiatan kemanusiaan dalam program bakti Menwa yang seperti dalam Program Pembangunan masyarakat Timor Timur pada tahun 1997 dan ikut serta membantu korban bencana gempa dan tsunami di NAD dan gempa di Yogyakarta pada Mei tahun 2006.serta siaga merapi yang tergabung dalam tim Basarnas. Perubahan nama Batalyon Menwa menjadi Satuan Menwa berawal dari keluarnya SKB 3 Menteri tahun 1994 yang tertuang dalam Juklak Menwa Indonesia tentang pembinaan dan penggunaan Resimen Mahasiswa dalam Bela Negara yang merubah nama Batalyon Menwa menjadi Satuan Menwa secara Nasional. Perubahan nama Batalyon menjadi Satuan pun diikuti Menwa UGM dengan nama Satmenwa UGM. Dalam perjalanan 30 tahun Menwa UGM berbagai prestasi telah berhasil ditorehkan baik dalam tingkat Regional, Nasional, maupun Interasional, dengan semboyan Prajna Vira Dharma Cevana, ( Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang Satmenwa UGM ingin memberikan yang terbaik untuk bumi pertiwi Indonesia.
Dengan Visi sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa berbasis kepemimpinan, Sebagai wujud Bela Negara dalam rangka Pembentukan Sumber Daya manusia yang unggul dalam kepribadian, Intelektual, dan jasmani. Dan visi Melaksanakan Pendidikan dan pelatihan Bela Negara sebagai wadah pembentukan profil Mahasiswa yang tanggap, tanggon dan trengginas, Merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan kegiatan kemahasiswaan, terutama dalam bidang minat kepemimpinan, terutama penalaran dan kesejahteraan serta mewujudkan pengabdian kepada Perguruan Tinggi, Masyarakat, Bangsa dan Negara Satmenwa UGM ingin tumbuh dan berkembang bersama Menwa Menwa Indonesia lainnya.

