January 9

CoE — Certificate of Eligibility

Alhamdulillaah, setelah 2 hari bersepeda ke sana kemari (24-25 Desember 2008), akhirnya selesai juga permohonan CoE di kantor imigrasi Ehime. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih, terutama kepada Mas Asep yang telah meng-up load form CoE di milist ppi-aidai dan Mas Lolo yang berkenan men-share pengalamannya saat mengurus CoE dahulu“.

CoE merupakan singkatan dari Certificate of Eligibility. Sertifikat ini akan sangat membantu didalam mengurus visa keluarga yang akan menyusul ke Jepang. Dengan memiliki CoE berarti keluarga tersebut dijamin (digaransi) oleh seseorang sehingga dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya dan layak tinggal di Jepang. Penjamin biasanya seseorang yang memiliki hubungan keluarga dan telah terlebih dahulu tinggal di Jepang atau bisa juga sensei (academic supervisor) kita masing-masing. Bila syarat-syarat telah lengkap, sebenarnya mudah sekali mengurus CoE.

1. Form Certificate of Eligibility. Form CoE ada 3 lembar A4 (bila diprint sendiri harus berukuran A4); berisi beberapa bagian yang pada dasarnya pemerintah Jepang ingin mengetahui identitas penjamin dan yang akan memperoleh jaminan. Form ini diperbolehkan diisi dengan tulisan tangan maupun komputer. Bagi yang berminat silahkan menghubungi penulis.

2. Pas foto. Di sudut kanan atas form CoE tersedia kotak tempat menempel pas foto, 30 mm x 40 mm sebanyak 1 lembar. Tidak ada penjelasan di form tersebut apakah foto berwarna ataukah hitam putih. Hanya saya sarankan sebaiknya yang berwarna, mengingat beda negara tentu akan berbeda warna kulit. Bagi yang tidak membawa pas foto keluarga, soft copy-nya  bisa dikirimkan via email lalu dicetak di Matsuyama. Biaya cetak foto (minimal harus 4 lembar) adalah 500 yen. Ya … kira-kira Rp 50.000,-

3. Akta kekerabatan. Dalam pengisian form CoE akan dimintai juga informasi tentang hubungan antara penjamin dengan yang akan diberi jaminan. Sehingga diperlukan akta nikah untuk suami-istri (ok), akta kelahiran untuk orang tua-anak (ok) dan akta keluarga untuk saudara kandung (?). Semua akta tersebut disyaratkan berbahasa Inggris atau Jepang (ok) dan disyahkan oleh pejabat yang berwenang (?). Sepengetahuan saya, bila men-translate-nya di Pemkot Yogyakarta, maka perlu disiapkan uang Rp 100.000,- untuk 1 akta asli dengan 4 copy terlegalisir. Di imigrasi Ehime cukup menyertakan 1 lembar foto kopiannya saja dan tidak diminta menunjukkan akta yang asli.

4.Surat keterangan penghasilan. Surat ini diperlukan sebagai bukti bahwa penjamin memang memiliki penghasilan di Jepang sehingga benar-benar mampu mencukupi pihak yang akan dijamin. Bagi mahasiswa penerima beasiswa, kita dapat meminta certificate of schoolarship di bagian international center. Permohonan CoE memerlukan 1 lembar surat keterangan penghasilan yang asli.

5. Surat keterangan mahasiswa (zaigaku shoumeisho). Surat ini dapat diperoleh di bagian akademik fakultas (gakumu). Permohonan CoE memerlukan 1 lembar surat keterangan mahasiswa yang asli.

6. Paspor. Mengurus CoE mensyaratkan paspor dari yang akan dijamin, karena didalam form CoE akan diminta nomor dan masa habis paspor. Foto kopi paspor tersebut supaya dilampirkan dalam pengajuan CoE di kantor imigasi. Jangan lupa juga membawa paspor kita sebagai penjamin.

7. Perangko. CoE yang sudah jadi akan dikirimkan oleh pihak imigrasi ke alamat penjamin di Jepang. Untuk itu, sediakan juga perangko secukupnya. Pada saat saya mengurus, saya diminta membeli perangko di kantor pos seharga 430 yen. Jangan khawatir, sekitar 100 meter dari kantor imigrasi terdapat kantor pos, di seberang jalan dekat lampu merah.

8. Uang. Pengurusan CoE gratis. Kantor imigrasi Ehime tidak meminta uang sepeser pun.

Selamat mencoba dan semoga berhasil !  O iya, hampir kelupaan, CoE akan jadi sekitar 3 minggu dari aplikasi. Saya sendiri 15 hari sudah diantar ke rumah. Turut bergembira dengan bertemunya sanak famili di Jepang, semuanya akan bertambah indah dan lebih bermakna 🙂



Copyright 2019. All rights reserved.

Posted 9 January, 2009 by admin in category "Uncategorized

About the Author

Lahir di pertengahan tahun 1977 dalam keluarga yang sederhana menjadikan saya merasa beruntung karena Ayah menempaku sejak kecil. Masa kecilku juga bersama kakek dan nenek dalam lingkungan tradisi di Ledok Balapan, Gondokusuman. Pada tahun 1980-an kami lalu hijrah ke Klitren Lor menempati sebidang tanah di tepi danau Langensari. Setelah sempat belajar selama 2 tahun di TK BOPKRI Jalan Solo, tepat di utara RS Bethesda saat ini, pada tahun 1984 saya melanjutkan pendidikan dasar di SD Klitren Lor II Langensari, kemudian SMP N 8 Yogyakarta (1990), di urutan 127 dari sekitar 400 siswa. Wah, gembira lho rasanya bisa duduk di bangku SMP N 8 yang terkenal itu. Orang tuaku pun tidak perlu kalang kabut mencarikan sekolah cadangan. Masa SMP merupakan waktu yang paling menyenangkan untuk belajar, disamping mengikuti berbagai kegiatan ekstra olah raga, seperti bola voli, basket dan sepak bola. Setelah sukses di SMP N 8 saya berkesempatan mengeyam pendidikan di SMA N 3 Padmanaba Yogyakarta (1993-1996). Beberapa kegiatan ekstra kurikuler pernah saya ikuti, seperti: KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), SKI (Seksi Kerohanian Islam), dan Peleton Inti (Bhayangkara Padmanaba). Wah, ternyata asyik sekali. Saya mendapatkan banyak pengalaman baru, kenalan teman-teman aktivis, dan juga pembinaan mental. Sambil menyelam minum air, begitulah harapannya waktu itu. Walau takdir akhirnya berkehendak lain. Asyik masyuk berorganisasi plus kurang pandai membagi waktu berujung pada belajar yang kurang optimal dan penyesalan di kemudian hari. Namun beruntung, di awal tahun 1996, beberapa bulan sebelum UMPTN, alhamdulillaah surat tanda terima PBUD di Fakultas Kehutanan UGM menjadi obat di kala ragu dan khawatir tidak lolos UMPTN. “Adalah sangat penting di kala muda melatih kemampuan berorganisasi serta mengisi waktu dengan banyak kegiatan positif dan bermanfaat, tapi jangan sampai lupa bahwa membagi waktu yang cukup untuk belajar merupakan tugas utama agar cita-cita idaman dapat tercapai” Lima tahun di UGM, saya pun menyempatkan merintis usaha mandiri: memproduksi dan memasarkan madu botol “Sylva” dari Magelang; berdagang koran KR di sekitar perempatan Tugu dan Jetis; serta nyantri di ponpes. Semuanya karena pengaruh ajakan teman-teman baikku kala itu. Ada yang mensponsori berwirausaha, ada pula yang mengajak mengkaji Al Qur’an dan Al Hadits. Disamping itu, berkat kebaikan hati Prof. Suhardi dan Prof. Moh. Na’iem, saya pun beruntung dapat mengikuti beberapa kerjasama penelitian kampus dan eksplorasi, seperti di Jambi, Palembang, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Pada awal tahun 2001, di akhir tahun ke-4 kuliah, kira-kira dua bulan sebelum KKN, saya menikah dengan seorang gadis asal Jawa Tengah dan saat ini telah dikaruniai empat orang anak laki-laki: Gilang, Ulin, Odhin dan Hikaru. Sembilan bulan kemudian, saya pun berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Kehutanan UGM dan melanjutkan mengabdi sebagai tenaga lepas hingga akhirnya diterima sebagai dosen tetap pada awal tahun 2002. Mengajar, mengabdi dan meneliti merupakan pekerjaan rutin sebagai seorang dosen, selain hidup bersosialisasi didalam masyarakat. Dan sejak bulan Oktober 2008, setelah enam tahun diperjuangkan, akhirnya keinginan melanjutkan studi ke LN pun menjadi kenyataan. Universitas Ehime Jepang adalah tempat pilihan Sang Pencipta. Ehime, 11 November 2010 Senang berkenalan dengan Anda