October 31

Upacara Adat Saparan Bekakak di Ambarketawang

..Google Translate..
ArabicEnglishDutchJapaneseArabicKoreanChinese Simplified

GermanPortugueseRussianItalianSpainFrench

Penymbelihan Bekakak
Bekakak yang disembelih di Gunung Gamping
Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Salah satunya berada di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Kebudayaan ini bernama Saparan Bekakak atau juga bisa disebut Bekakak Saparan, Saparan Gamping (Bekakak), dan Bekakak. Wujudnya berupa upacara slametan atau upacara adat. Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang upacara adat ini.

1. Sejarah

1.1. Arti Nama

Nama upacara adat ini terdiri dari 2 kata, yakni “saparan” dan “bekakak”. Kata “saparan” berasal dari kata sapar yang identik dengan ucapan Arab : Syafar, yang berarti bulan Arab yang kedua. Jadi, upacara adat ini dilakukan pada Bulan Sapar.

Sementara maksud dari kata “bekakak” ialah qurban baik hewan atau manusia yang disembelih sebagai persembahan. Wujud bekakak yang dilakukan pada upacara adat ini hanya tiruan manusia saja. Berwujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.

1.2. Asal Usul

Upacara Adat Saparan Bekakak sudah muncul sejak tahun 1755 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I menetap di Pesanggrahan Ambarketawang. Sedangkan mengenai tentang asal usulnya terdapat beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Versi tersebut antara lain :

1.2.1. Versi pertama ditulis ORS/Tim Potret (wartawan SCTV – Liputan 6) pada hari Minggu tanggal 27 April 2003 pukul 14:54.

Desa Ambarketawang adalah sebuah wilayah perbukitan gamping atau batu kapur. Seluruh warga desa menjalani kehidupan sebagai penggali batu kapur yang saat itu digunakan untuk membangun Keraton Yogyakarta. Namun, usaha penggalian batu kapur ini sring sekali menelan banyak korban jiwa. Di antaranya adalah sepasang suami istri yang juga abdi dalem keraton. Sang suami bernama Wirosuto.
Lantaran banyak korban yang berjatuhan, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang memerintah saat itu mencari petunjuk untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sultan pun bertapa di kawasan Gunung Gamping. Ternyata dalam pertapaannya, Sang Sultan mendapat wisik atau petunjuk dari para setan Bekasakan. Dalam wisik tersebut, penunggu tempat itu meminta sepasang pengantin dikorbankan setiap tahunnya demi kelancaran dan keselamatan kegiatan penggalian batu gamping. Namun Sultan berpikiran lain, wisik itu lantas ditanggapi melalui sebuah tipu muslihat. Yakni, dengan membuat sesaji berbentuk bekakak atau boneka pengantin untuk kemudian dikorbankan. Ternyata, tipuan itu berhasil. Dan, sejak saat itulah tradisi Saparan Bekakak menjadi sebuah rutinitas tahunan yang dilaksanakan di Desa Ambarketawang.

1.2.2. Versi kedua ditulis oleh oleh Fir (wartawan KRjogja.com) pada hari Jum’at, 29 Januari 2010 pukul 19:27.

Pada saat Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintah & tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, Gunung Gamping banyak memakan korban akibat ulah makluk penunggu sepasang suami isteri Genderuwo dan Wewe. Mereka meminta agar disediakan darah sepasang pengantin baru jika penduduk di sekitar gunung Gamping dan Gunung Kliling ingin selamat. Akhirnya, demi keselamatan, penduduk terpaksa menyerahkan pasangan pengantin baru sebagai bekakak. Penyembelihan bekakak ini harus dilaksanakan setiap bulan Sapar.

Mendengar berita tersebut abdi dalem penongsong Ki Wirosuto yang tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang mengikuti Sri Sultan Hamengku Buwana I akhirnya turun lapangan untuk menyelamatkan warga. Pertarungan pun terjadi. Ki Wirosuto yang senang melaksanakan laku tapa brata sebagaimana Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana I, akhirnya mampu mengalahkan Genderuwo dan Wewe. Tetapi, 2 makhluk tersebut tidak mau mengakui kekalahannya. Sebelum meninggalkan arena pertarungan, Gendruwo dan Wewe mengancam akan datang lagi untuk memangsa penduduk jika Ki Wirosuto tidak ada di situ.

Karena itu demi keselamatan warga, Ki Wirosuto tidak berani meninggalkan Gunung Gamping. Bahkan ketika Sri Sultan Hamengku Buwana I pindah dari Pesanggrahan Ambarketawang ke kraton yang sudah selesai pembangunannya di Alas Pabringan, dengan sangat terpaksa Ki Wirosuto tidak bisa ikut & memilih berada di tempat ini. Tinggal di suatu gua di Gunung Gamping bersama keluarganya hingga akhir hayat. Akhirnya Ki Wirosuto ditempatkan sebagai cikal bakal penduduk Gamping.

Melihat kesetiaan dan pengorbanan Ki Wirosuto, Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwana I akhirnya memerintahkan untuk mengadakan upacara selamatan bagi Ki Wirosuto setiap bulan Sapar atas kesetiaannya.

2. Penyelenggaraan dan Pelaksanaan

2.1.Penyelenggaraan upacara adat ini bertujuan untuk menghormati arwah (roh halus) Berikut ini uraian tentang penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Bekakak.

2.1.1. Tempat dan Persiapan

Tempat penyelenggaraan upacara disesuaikan dengan pelaksanaan upacara. Persiapan penyelenggaraan upacara dibagi dalam dua macam, yakni saparan bekakak dan sugengan ageng. Persiapan untuk saparan bekakak terutama pembuatan bekakak dari tepung ketan dan membuat juruh, yang memakan waktu ±8 jam. Pada saat pembuatan tepung diiringi gejong lesung atau kothekan yang memiliki bermacam-macam irama antara lain, kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung dan lain-lain.

Apabila penumbukan beras telah selesai, kemudian dilakukan pembuatan bekakak, gendruwo, kembang mayang, dan sajen-sajen, di satu tempat (biasanya panitia).

2.1.2. Waktu

Waktu pelaksanaan Upacara Adat Saparan Bekakak ditetapkan setiap hari Jumat, bulan Sapar antara tanggal 10 – 20 pada pukul 14.00 (kirab temanten bekakak). Sedangkan penyembelihan bekakak dilakukan pada pukul 16.00.

2.1.3. Busana Bekakak

Bekakak berbentuk seperti pengantin pria dan wanita yang terdiri dari 2 pasang. Pada umumnya dua pasang pengantin bekakak ini memakai busana dengan gaya yang berbeda. Sepasang bergaya Solo, dan sepasang lagi bergaya Yogyakarta. Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Solo dihias dengan ikat kepala ahestar berhiaskan bulu-bulu, leher berkalung selendang merah, dan kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk biru, memakai slepe. Mengenakan keris beruntaikan bunga melati, dan kelat bau. Sedangkan yang wanita memakai kemben berwarna biru, berkalung selendang merah dan kalung sungsun. Wajah dipaes, gelung diberi bunga-bunga dan mentul, di bahu diberi kelat bahu dan memakai subang.

Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Yogyakarta, dihias dengan penutup kepala kuluk berwarna merah, berkalung selendang (sluier) biru dan kalung sungsun, sabuk biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, kemben hijau, kalung selendang biru (bangu tulak). Kekhususan yang tidak dapat dilanggar sampai saat ini, yaitu pelaku yang menyiapkan bahan mentahnya tetap para wanita, sedang yang mengerjakan pembuatan bekakak adalah para pria.

2.1.4. Sesaji

Sesaji upacara bekakak dibagi menjadi 3 kelompok. Dua kelompok untuk dua jali yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. Satu kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara. Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah.

Sesaji itu ditempatkan dalam sudhi, gelas, kemudian ditaruh di atas jodhang antara lain sekul wajar (nasi ambeng) dengan lauk pauk: sambel goreng waluh, tumis buncis, rempeyek, tempe garing, bergedel, entho-entho, dan sebagainya, sekul galang lutut, sekul galang biasa, tempe rombyong yang ditaruh dalam cething bambu, tumpeng megana, sanggan (pisang raja setangkep), sirih sepelengkap, jenang-jenangan, rasulan (nasi gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemul, roti kaleng, jadah bakar, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, ayam hidup, kelapa, sajen-sajen tadi ditempatkan dalam sudhi lalu semuanya diletakkan dalam lima ancak, dua ancak diikutsertakan dalam jali dibagikan kepada mereka yang membuat kembang mayang, bekakak dan yang menjadikan tepung (ngglepung) sementara itu disiapkan pula burung merpati dalam sangkar.

2.2.Pelaksanaan Upacara Adat Saparan Bekakak diperinci dalam beberapa tahap, antara lain :

2.2.1. Midodareni Bekakak

Kata “midodareni” bersal dari bahasa Jawa “widodari” yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak.

Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai ± jam 20.00. Dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan. Adapun urutan barisan arakan dari tempat persiapan ke balai desa Ambarketawang sebagai berikut :

2.2.1.1.       Barisan pembawa umbul-umbul

2.2.1.2.       Barisan peleton pengawal dari Gamping tengah

2.2.1.3.       Joli pengantin dan jodhang

2.2.1.4.       Reyog dari Gamping kidul

2.2.1.5.       Pengiring yang lain

Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak Kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di tempat lain diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.

2.2.2. Kirab Pengantin Bekakak

Tahap ‘kirab’ pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.

Adapun urut-urutan arakan/ pawai upacara tradisional saparan bekakak sebagai berikut :

2.2.2.1.  Reyog dan jathilan dari Patran

2.2.2.2. Sesaji sugengan Ageng

2.2.2.3. Barisan prajurit dari Gamping tengah membawa umbul-umbul memakai celana hitam kagok, berkain, baju lurik, destalan, seperti prajurit Daeng. Mereka membawa seruling, genderang dan mung-mung.

2.2.2.4. Prajurit putri membawa perisai, pedang, mengenakan baju berwarna-warni, celana panjang cinde dan berkain loreng.

2.2.2.5. Rombongan Demang dan kawan-kawan. Demang tersebut mengenakan kain, baju beskap hitam, memakai selempang kuning.

2.2.2.6. Jagabaya berkain, baju beskap hitam, memakai serempang merah.

2.2.2.7. Kaum atau rois, mengenakan kain berbaju surjan memakai serempang putih.

2.2.2.8. Pembawa tombak berbungkus cindhe beruntaikan bunga melati, mereka mengenakan celana hitam kagok, baju lurik, iket wulung, berselempang cindhe. Tiga pemudi mengenakan kain lurik ungu, baju hijau, memakai selempang merah, masing-masing membawa tiruan landak, gemak, merpati.

2.2.2.9. Barisan pembawa tombak, memakai celana merah, baju lurik merah, iket berwarna merah jingga.

2.2.2.10. Peserta bapak-bapak yang berkain berbaju surjan seragam warna merah, memakai sampur berwarna-warni.

2.2.2.11. Prajurit anak-anak, laki-laki perempuan membawa jemparing (panah).

2.2.2.12. Joli sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam hitam kagok, baju merah iket biru.

2.2.2.13. Barisan selawatan

2.2.2.14. Joli bekakak Gunung Kliling

2.2.2.15. Barisan yang membawa kembang mayang, cengkir, bendhe, tombak, dan luwuk semua dipayungi.

2.2.2.16. Barisan berkuda

2.2.2.17. Barisan pembawa panji-panji berwarna-warni yang mengenakan kain, baju surjan biru muda dan iket hitam.

2.2.2.18. Tiga pemudi membawa banyak dhalang, sawung galing, ardawalika

2.2.2.19. Tiga orang pemuda membawa padupaan dan bunga-bunga diikuti pembawa alat musik genderang, seruling dan mung-mung.

2.2.2.20. Prajurit Gamping Lor, diikuti prajurit, putri yang membawa panah, disusul lagi mereka yang membawa pedang panjang.

2.2.2.21. Jali sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam celana hitam kagok, baju merah iket biru.

2.2.2.22. Jathilan dari patran

2.2.2.23. Prajurit Gamping Kidul, ada yang memakai topeng buron wana (landhak, kerbau, garuda) ada yang membawa tombak bertrisula, tombak biasa.

2.2.2.24. Reyog Gunung Kidul (seperti badhak merak)

2.2.2.25. Kemudian upacara tradisional itu berangkat dari balai desa menuju kearah bekas Gunung Gamping (Gunung Ambarketawang), tempat penyembelihan pertama, kemudian ke tempat penyembelihan kedua yaitu di Gunung Kliling.

2.2.3. Nyembelih Pengantin Bekakak

Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa.

Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung.

Adapun jodhang yang berisi sajen selamatan dibagikan kepada petugas di tempat penyembelihan terakhir.

2.2.3. Sugengan Ageng

Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang ini dipimpin oleh Ki Juru Permana pada hari tersebut. Pesanggrahan telah dihiasi janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari patran, berujud jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.

Upacara ini dilaksanakan di Gunung Kliling selesai. Pertama-tama pembakaran kemenyan, lalu dilanjutkan oleh Ki Juru Permana membuka upacara tadi dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, dilanjutkan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah selesai maka dilepaskannya sepasang burung merpati putih oleh Ki Juru permana. Pelepasan burung merpati ini disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikannya. Kemudian dilakukan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam joli rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I. Dengan selesainya pembagian sesaji yang dilaksanakan, di pesanggrahan Ambarketawang.

3. Perkembangan

Sejak pertama kali diselenggarakannya, upacara adat ini telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan, baik itu dari segi personil maupun segi transportasi yang digunakan. Dari segi personil, pada awalnya, upacara adat ini diikuti oleh para abdi dalem dan juga keluarga dari kalangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta masyarakat di sekitar Desa Ambarketawang. Sedangkan masyarakat umum hanya bisa menjadi penontonnya saja. Tetapi, kini hal itu tidak terjadi. Karena upacara adat ini telah menjadi upacara adat yang bersifat nasional. Para peserta yang mengikuti ritual upacara adat ini pun berasal dari berbagai macam penjuru tanah air. Walaupun dalam pelaksanaannya, panitia selalu mewanti-wanti agar mereka mematuhi ketentuan yang ada dan tidak melenceng dari tujuan diselenggarakannya upacara adat ini. Sedangkan, untuk jumlah personilnya sendiri tidak tanggung-tanggung. Bahkan kini bisa mencapai ribuan dengan suguhan atraksi yang beraneka ragam dan menarik perhatian penonton.

Dari segi transportasi yang digunakan, bisa dibilang cukup menarik. Karena sekarang sudah ada kereta mini yang siap mengantarkan pengunjung ke puncak acara, yaitu di Gunung Gamping. Jadi, ketika para pengunjung lelah bisa mencoba kereta mini tersebut asalkan masih ada tempat duduk yang masih kosong.

Sumber referensi :

  1. www.krjgogja.com.htm diunduh pada hari Kamis tanggal  28 Oktober 2010 pukul 07:46.
  2. http://berita.liputan6.com/progsus/200304/53651/class=%27vidico%27 diunduh pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 pukul 11:07.
  3. http://cuplik.com/__gayahidup/home.php?module=detail_news&ck=gayahidup&id=1950 diunduh pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 pukul 11:07.
  4. http://tasteofjogja.org/web/IDA/detailbud.asp?idbud=263 diunduh pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 pukul 11:08.
  5. http://2vx.net/upacara-adat-saparan-bekakak-gamping/ diunduh pada hari Minggu  tanggal 31 Oktober 2010 pukul 05:05.
  6. http://jogjanews.com/2010/01/30/upacara-adat-saparan-bekakak-penghormatan-warga-ambarketawang-untuk-kyai-wirosuta/ diunduh pada hari Minggu tanggal 31 Oktober 2010 pukul 05:30.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!–[endif]–>

Sejak pertama kali diselenggarakannya, upacara adat ini telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan, baik itu dari segi personil maupun segi transportasi yang digunakan. Dari segi personil, pada awalnya, upacara adat ini diikuti oleh para abdi dalem dan juga keluarga dari kalangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta masyarakat di sekitar Desa Ambarketawang. Sedangkan masyarakat umum hanya bisa menjadi penontonnya saja. Tetapi, kini hal itu tidak terjadi. Karena upacara adat ini telah menjadi upacara adat yang bersifat nasional. Para peserta yang mengikuti ritual upacara adat ini pun berasal dari berbagai macam penjuru tanah air. Walaupun dalam pelaksanaannya, panitia selalu mewanti-wanti agar mereka mematuhi ketentuan yang ada dan tidak melenceng dari tujuan diselenggarakannya upacara adat ini. Sedangkan, untuk jumlah personilnya sendiri tidak tanggung-tanggung. Bahkan kini bisa mencapai ribuan dengan suguhan atraksi yang beraneka ragam dan menarik perhatian penonton.

Dari segi transportasi yang digunakan, bisa dibilang cukup menarik. Karena sekarang sudah ada kereta mini yang siap mengantarkan pengunjung ke puncak acara, yaitu di Gunung Gamping. Jadi, ketika para pengunjung lelah bisa mencoba kereta mini tersebut asalkan masih ada tempat duduk yang masih kosong.



Copyright 2019. All rights reserved.

Posted 31 October, 2010 by cahyotommy in category "Uncategorized

About the Author

Saya adalah seorang laki-laki yang kini mengemban ilmu di Sastra Asia Barat UGM Angkatan 2010